Penyebab Manusia Tidak Pernah Merasa Puas

IPARI KOTA BENGKULU – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai fenomena manusia yang selalu merasa kurang dalam artian tidak pernah merasa puas. Padahal, sudah memiliki rumah, tapi masih ingin rumah yang lebih besar. Sudah punya kendaraan, masih ingin kendaraan yang lebih mewah. Bahkan dalam urusan pekerjaan pun juga demikian, seperti jabatan, hingga penampilan, itulah seakan-akan menjadi sifat yang melekat pada manusia.

Fenomena ini, sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak zaman dahulu, manusia memang memiliki kecenderungan untuk terus mencari sesuatu yang lebih. Namun begitu, jika tidak dibarengi dengan rasa syukur, sifat ini dapat menjerumuskan manusia dalam jurang keserakahan dan kebinasaan.

Dalam ayat Al-Qur’an telah menggambarkan sifat dasar manusia, yang selalu merasa kurang. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)

Ayat ini menjelaskan, memang manusia memang memiliki tabiat tidak pernah puas. Saat ditimpa kesulitan, ia merasa mudah mengeluh. Namun ketika diberikan kelapangan, ia justru enggan berbagi.
Hal inilah yang menunjukkan, bahwa sifat ketidakpuasan sering membuat manusia lupa akan hakikat hidupnya, sebagai hamba Allah SWT.

Rasulullah SAW pun mengingatkan dalam sebuah hadits, yang artinya :

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah berisi emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulut anak Adam kecuali tanah (kematian). Allah akan menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini, juga menegaskan bahwa nafsu duniawi manusia tidak akan ada batasnya. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula keinginannya untuk menambah lagi. Dan hanya kematian yang dapat menghentikan keinginan tersebut, kecuali bagi orang-orang yang mampu mengekang hawa nafsunya dengan rasa syukur.

Faktor Penyebab Manusia Tidak Pernah Puas

Ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia sulit merasa cukup:

1. Hawa Nafsu

Nafsu selalu mendorong manusia, untuk mencari kenikmatan dunia tanpa batas. Jika tidak dikendalikan dengan iman yang kuat, nafsu akan menjerumuskan pada sifat tamak dan serakah.

2. Perbandingan Sosial

Hidup di tengah masyarakat, sering membuat manusia membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti contoh di media sosial sebab, semakin memperbesar rasa iri dan ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain.

3. Kurangnya Rasa Syukur

Sifat tidak pernah puas muncul ketika manusia lupa pentiungnya bersyukur. Padahal, syukur itu adalah kunci ketenangan hati. Tanpa syukur, sebanyak apapun harta yang dimiliki, akan tetap terasa kurang.

Cinta Dunia yang Berlebihan

Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Kecintaanmu kepada sesuatu menjadikanmu buta dan tuli.”
(HR. Abu Dawud)

Sebab, kecintaan berlebihan terhadap dunia, akan menjadikan manusia tidak peka terhadap nikmat Allah SWT, hingga selalu merasa kurang dan terus merasa kurang.

Dampak Negatif Tidak Pernah Puas

Jika sifat tidak puas dibiarkan, akan muncul berbagai dampak buruk:

1. Hati tidak tenang

Orang yang selalu merasa kurang, akan hidup dalam kecemasan dan iri hati. Ia tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sejati itu seperti apa.

2. Kerusakan sosial

Sifat tamak melahirkan persaingan tidak sehat, korupsi, penindasan, bahkan peperangan.

Untuk itulah, manusia yang merasa kurang terus, akan melakukan berbagai cara akan merasa dirinya yang paling hebat, diantara orang lain.

3. Menjauhkan diri dari Allah SWT

Orang yang tidak pernah puas, lebih sibuk mengejar dunia hingga melupakan ibadah dan akhirat.

Jalan Keluar: Bersyukur dan Qana’ah

Islam mengajarkan solusi untuk mengatasi sifat tidak pernah puas, yaitu dengan syukur dan qana’ah (merasa cukup dengan apa yang ada).

Allah SWT berfirman:

“Dan sungguh, jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nahl: 18)

Dalam ayat ini, mengingatkan manusia bahwa nikmat Allah SWT begitu banyak, bahkan tidak bisa dihitung. Maka, bersyukur adalah kunci agar hati merasa tenang dan puas.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Berbahagialah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan, bahwa kebahagiaan sejati bukanlah karena banyaknya harta, tetapi karena hati yang merasa cukup.

Karena itu, Manusia memang memiliki tabiat tidak pernah puas. Namun, Islam memberikan panduan agar sifat itu tidak menjerumuskan kita ke dalam keserakahan. Dengan bersyukur, qana’ah, dan selalu mengingat bahwa dunia hanyalah sementara, hati akan merasakan ketenangan.

Hidup yang penuh syukur akan menjadikan manusia lebih bahagia, lebih ringan menjalani cobaan, serta lebih siap menyongsong kehidupan akhirat. Maka, marilah kita belajar untuk selalu melihat ke bawah dalam urusan dunia, dan melihat ke atas dalam urusan akhirat.

Dengan begitu, kita akan terbebas dari sifat tidak pernah puas, dan hidup menjadi lebih bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *