Memaafkan Itu Indah, Jangan Biarkan Dendam Membunuhmu

IPARI KOTA BENGKULU – Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak pernah lepas berinteraksi dengan orang lain. Kadang interaksi itu bisa memperkuat tali silaturahmi, namun tidak jarang, juga menimbulkan sakit hati, salah paham, bahkan rasa dendam yang begitu dalam.

Rasa sakit ketika dikhianati, disakiti, bahkan diperlakukan tidak adil, seringkali menumbuhkan keinginan untuk membalas. Namun, Islam mengajarkan bahwa memaafkan adalah jalan yang lebih mulia dan lebih indah, karena dendam justru akan merusak diri sendiri, sebelum mengenai orang lain.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran  Surah Asy-Syura ayat 40, yang artinya, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”

Dalam ayat ini, menegaskan bahwa membalas itu boleh-boleh saja, tapi memaafkan adalah pilihan yang jauh lebih tinggi derajatnya. Allah SWT juga menjanjikan pahala langsung bagi orang yang ikhlas memaafkan. Janji ini menunjukkan betapa agungnya akhlak pemaaf di sisi Allah.

Luka dan Dendam yang Membunuh

Dendam ibarat api dalam hati yang terus membara. Makin dipelihara, makin membara. Ia bisa membunuh ketenangan, menghilangkan kebahagiaan, dan membuat hidup penuh kegelisahan.

Bahkan, dendam seringkali tidak hanya merugikan jiwa, tetapi juga fisik. Banyak penelitian modern yang menunjukkan bahwa kebencian, dan dendam yang dipelihara dapat meningkatkan stres, menurunkan kualitas tidur, hingga memicu penyakit jantung.

Tidak heran jika Rasulullah SAW selalu menganjurkan umatnya untuk berlapang dada. Beliau bersabda:

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini, juga menekankan bahwa kekuatan sejati bukan pada fisik, atau kemampuan membalas, melainkan pada kemampuan mengendalikan emosi dan memaafkan.

Teladan Rasulullah SAW dalam Memaafkan

Rasulullah SAW menjadikan contoh teladan yang terbaik dalam hal memaafkan. Beliau berkali-kali disakiti, dihina, bahkan disakiti secara fisik, tetapi selalu memilih memaafkan.

Salah satu contoh paling indah adalah ketika beliau menaklukkan kota Mekkah (Fathul Makkah). Saat itu, Rasulullah SAW memiliki kekuasaan penuh untuk membalas sakit hati yang telah dilakukan kaum Quraisy, selama bertahun-tahun. Namun, yang keluar dari lisannya adalah kalimat penuh kasih:

“Pergilah kalian, karena kalian semua bebas.”

Kalimat itu, sangat mengguncang hati para musuhnya. Betapa besar jiwa beliau dalam memaafkan, bahkan di saat beliau memiliki kesempatan untuk membalas. Sikap ini menunjukkan bahwa memaafkan bukanlah kelemahan, melainkan puncak dari kekuatan jiwa.

Memaafkan Membawa Kedamaian

Memaafkan bukan hanya memberikan ketenangan bagi orang yang dimaafkan, tetapi terutama untuk diri sendiri. Hati menjadi lebih ringan, jiwa lebih damai, dan hidup lebih tenang. Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nur: 22)

Ayat ini, juga mengingatkan kita bahwa dengan memaafkan, kita sedang membuka jalan agar Allah SWT juga mengampuni dosa-dosa kita. Bukankah kita semua menginginkan ampunan Allah? Jika begitu, maka janganlah kita berat memaafkan sesama.

Jangan Biarkan Dendam Membunuhmu

Memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan orang lain, tetapi melepaskan diri dari belenggu kebencian yang mengikat.

Sebab dendam tidak akan mengubah masa lalu, justru hanya merusak masa depan kita. Ketika memaafkan, kita sedang membebaskan diri dari penjara hati.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sedekah tidak akan mengurangi harta, Allah tidak akan menambah kepada seorang hamba yang suka memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa memaafkan justru akan meninggikan derajat dan mendatangkan kemuliaan, bukan merendahkan.

Dalam artian, hidup akan lebih indah jika kita mengisinya dengan cinta, kasih sayang, dan maaf. Jangan biarkan dendam membunuh kebahagiaan dan kedamaian hati kita.

Allah dan Rasul-Nya telah menuntun kita bahwa jalan terbaik adalah memaafkan. Mari kita belajar menjadi pribadi yang pemaaf, karena dengan itu kita bukan hanya mendapatkan ketenangan, tetapi juga menggapai ridha Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar