Profil Fatkur Rohman, Penyuluh Agama yang Sukses Dirikan Yayasan Antikorupsi di Bengkulu

News787 Dilihat

IPARI KOTA BENGKULU – Di tengah hiruk-pikuk kota dan maraknya kasus korupsi yang mencoreng wajah bangsa, siapa sangka seorang anak desa dari pedalaman Bengkulu Utara, kini berdiri di garis depan gerakan budaya antikorupsi? Dialah Fatkur Rohman, Penyuluh Agama Islam (PAI) Non PNS yang kini menjadi inspirasi baru dalam membangun integritas dari akar rumput.

Lahir di Samban Jaya, 27 April 1990, Fatkur adalah putra dari seorang guru ngaji sederhana, Bapak Slamet, yang tak hanya mengajarkan huruf-huruf hijaiyah, tapi juga menanamkan nilai-nilai moral yang kelak menjadi pegangan hidup anaknya, tentang kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Didikan spiritual yang kuat di lingkungan keluarga dan desa membuat Fatkur tumbuh menjadi sosok yang teguh pendirian, namun tetap rendah hati.

Jalan hidupnya kemudian membawanya aktif dalam dunia dakwah dan penyuluhan. Tapi tidak berhenti di situ sejak masa mahasiswa, ia telah menunjukkan bakat kepemimpinan dan kepedulian sosial yang tinggi.

Bersama beberapa aktivis muda lain, Fatkur sukses mendirikan Yayasan Anti Korupsi Bengkulu, yang kini menjadi wadah edukasi integritas di sekolah-sekolah dan komunitas.

Ia menjabat sebagai bendahara yayasan, sekaligus motor penggerak dalam kampanye nilai-nilai kejujuran, baik secara langsung maupun melalui media grup facebook.

“Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi juga krisis moral dan nilai. Di tengah tantangan ini, peran PAI menjadi kunci dalam membentuk kesadaran spiritual dan integritas sosial. yang diunggah di kanal YouTube-nya,” ujar Fatkur yang dikenal dengan ucapannya sederhana, namun menghunjam kesadaran.

Salah satu program fenomenal yang digagas Fatkur adalah Kampung Antikorupsi di Kota Bengkulu.

Sebagai seorang Ketua RT sekaligus penyuluh agama, ia menyatukan kekuatan warga, tokoh agama, pemuda, dan pemerintah setempat untuk menciptakan lingkungan yang bersih, transparan, dan berintegritas.

Dari papan transparansi anggaran hingga forum warga antikorupsi, semua dikembangkan dengan semangat gotong royong dan nilai-nilai agama.

Dampaknya? Tentu terlihat nyata. Kepercayaan masyarakat meningkat, pelibatan warga dalam kegiatan sosial makin tinggi, dan yang paling penting: tumbuh generasi muda yang tidak alergi bicara soal korupsi.

Di balik ketegasannya menyuarakan nilai integritas, Fatkur tetap sosok sederhana. Ia lebih suka duduk bersama warga membahas perbaikan selokan, atau musyawarah RT ketimbang tampil di mimbar formal.

Tapi gagasannya sudah menembus ruang-ruang kebijakan dan menjadi perbincangan di kalangan aktivis dan akademisi.

Kini, namanya masuk dalam daftar nominasi Penyuluh Agama Islam Award 2025. Namun bagi Fatkur Rohman, penghargaan bukanlah tujuan.

“Yang penting, suara kita melawan korupsi tak pernah padam. Selama masih ada yang berani jujur, negeri ini punya harapan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *