Makna Ikhlas Dalam Ibadah Kurban

Oleh : Misni, S.Ag (Penyuluh Agama Islam KUA Teluk Segara)

IPARI KOTA BENGKULU – Sesungguhnya hari-hari ini adalah hari yang sangat luar biasa di sisi Allah. Nabi Saw. bersabda:

Hari-hari dunia yang paling utama di sisi Allah adalah 10 hari awal bulan Dzulhijah. (HR. Bukhari)

Sesungguhnya pada setiap momen pasti ada nilai-nilai keutamaan dalam pelaksanaan ibadah, dan tentu memiliki nilai pahala yang agung dan besar disisi-Nya. Sebagaimana halnya beribadah di awal bulan Dzulhijah memiliki pahala yang besar, bahkan sekalipun dibandingkan dengan keutamaan jihad fie sabilillah.

Para sahabat terobsesi dengan pahala tersebut, sehingga mereka bertanya: Wahai Rasulullah sekalipun dibandingkan dengan jihad fie sabilillah? Rasulullah Saw., menegaskan:

… ya termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad) dan tidak ada satu pun yang kembali (ia mati syahid) (HR. Muslim).

Tentu, wahai kaum muslimin-muslimat, dibalik besarnya fadhilah dan pahala kurban tersebut, ada syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh kita yakni:

Pertama, keikhlasan. Ikhlas adalah kata kunci pertama dan utama apabila kita menginginkan pahala yang besar tersebut. Apa yang terjadi pada saat Allah Swt. memerintahkan Nabiyullah Ibrahim As. menyembelih putranya sendiri, Ismail tersayang, mungkinkah Tuhan sekejam itu?

Coba kita perhatikan, ada suatu momen yang sangat menakjubkan. Yakni Ismail begitu ikhlas menghadapi perintah Allah Swt. kepada ayahnya. Itulah keikhlasan menjadi sumber utama. Ibrahim ikhlas menerima perintah Tuhan-Nya dan Ismail pun ikhlas untuk menjadi kurban atas dasar perintah Allah.

Nabi Ibrahim dan Ismail telah membuktikan nilai dari sebuah keikhlasan tersebut, keduanya telah meraih ganjaran yang agung dan mulia. Saat mata pisau Ibrahim siap diletakkan dan hampir menyentuh kulit leher Ismail, ketika itulah Allah Swt. mengirimkan domba yang sehat dan gemuk sebagai penggganti kurban tersebut, Ismail selamat Ibrahim pun lulus ujian. Inilah hasil dari sebuah keikhlasan. Subhanallah.

Mereka berdua, antara ayah dan anak terpilih sebagai Nabi yang memiliki kedudukan mulia dan tinggi serta terhormat (maqamam mahmuda).

Lalu ujian keikhlasan itu ditimpakan pula kepada kita kaum muslimin melaui momen hari raya Idul Adha. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya dalam surat al-Kautsar:

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Syariat kurban merupakan media ujian Allah terhadap keikhlasan hamba-hamba-Nya dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Mampukah kita sebagai hamba-Nya melawan hawa nafsu kekikiran dan ketamakan yang ada dalam dirinya.

Bisakah seorang hamba mendidik dirinya untuk selalu mensyukuri karunia rezeki yang telah diterimanya? Itulah takwa, dengan ketakwaan itulah dapat membimbing dan menghantarkan seseorang hamba menuju ridha Allah Swt.

اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ

Kemudian yang kedua, yang harus menjadi dasar berkurban adalah kepedulian. Ibadah kurban merupakan ibadah yang bersifat dan berkarakter ikhlas dan mengarahkan kepada manusia untuk selalu peduli terhadap lingkungan sekitar, meningkatkan hubungan interaksi sosial sesama manusia. Ibadah kurban sangat menekankan aspek kepedulian serta kepekaan sosial dalam memperkuat hubungan persaudaraan antar sesama manusia.

Kurban menjadi sebuah alternatif ibadah untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Islam mengajarkan dan menganjurkan kepada penganutnya untuk menyelaraskan prinsipnya dalam menjaga diri, menjaga kerukunan, mencipta suasana lingkungan yang aman, harmoni dan damai. Lalu menjaga pola hidup sehat, beribadah dan bekerja sesuai dengan tugas dan porsi masing-masing kita di semua lini kehidupan.

Kambing ataupun hewan kurban yang sudah disembelih, biasanya dibagi-bagikan kepada orang-orang fakir maupun miskin dan kepada yang lainnya yang dibolehkan secara syar’i, adalah sebagai bentuk kepedulian sosial seorang Muslim.

Meskipun yang dibagikan hanya 1-2 kg, namun hal itu sudah merupakan bentuk kepedulian yang patut diapresiasi dari sebuah solidaritas kemanusiaan dan kesalehan sosial, sebagai cerminan dari kesalehan personal masing-masing individu.
Kita simak sabda Rasulullah Saw. dari Jabir ibn Abdullah Ra:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Ibadah kurban yang dilakukan seorang Muslim pada Hari Raya Idul Adha adalah sebagai bentuk kecintaannya, bukan saja kepada Allah saja, namun juga kepada sesama manusia. Sebab sudah seyogyanya kaum muslimin yang mukminin dan mukhlisin harus mau dan mampu dan memiliki kecintaan kepada sesamanya. Sebagaimana telah dikiaskan oleh Rasulullah Saw., dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik Ra.:

Dari Nu’man bin Basyir dia berkata: Rasulullah saw. Bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah ibadah kurban yang disandarkan pada sebuah nilai kemanusiaan, beririsan dengan nilai kepedulian kepada sesama, serta nilai kepekaan dan solidaritas tinggi, menjunjung tinggi nilai tepo seliro, yang maha dahsyat tercermin dari ibadah kurban yang dilakukan oleh segenap kaum muslimin yang diberikan kemampuan dan kecukupan.

Sinergi dengan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an, bahwa pahala yang akan didapatkan orang yang melakukan kurban adalah akan mendapatkan nilai ketakwaan yang langsung diberikan oleh Allah Swt. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam al-Qur’an surat al-Hajj ayat ke-37:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj: 37)

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu berusaha mendekatkan diri dengan pelaksanaan ibadah kurban. Kemudian saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji diberikan kekuatan lahir batin, sempurna melaksanakan rukun, wajib dan sunnah haji dan pulang berkumpul dengan keluarganya di tanah air dengan predikat haji mabrur. Haji yang membawa nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan bagi lingkungan sekitarnya. Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *