IPARI KOTA BENGKULU – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Ratu Samban, H. M. Awaludin, M.Ag menjelaskan, keistimewaan pada hari Arafah, dari momen puncak ibadah hingga ampunan dosa dari Allah SWT.
Dikatakan M. Awaludin, hari Arafah merupakan salah satu hari paling agung dalam kalender Islam. Ia menjadi titik puncak pelaksanaan ibadah haji, saat para jamaah berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf ibadah inti dalam haji.
Namun, keutamaannya tak hanya berlaku bagi mereka yang berada di Tanah Suci. Namun juga bagi umat Islam di seluruh dunia, Hari Arafah juga menjadi momentum emas untuk meraih pahala, ampunan, dan keberkahan dari Allah SWT.
Apalagi, 10 hari pertama Dzulhijjah menjadi waktu emas dalam setahun, hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah atau tepatnya ditanggal 8 Juni 2025, yang termasuk dalam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dimana hari-hari yang Allah SWT muliakan secara khusus.
Sebagaimana penjelasan dalam Surah Al-Fajr, Allah SWT berfirman.
وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (3) (سورة الفجر
“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh, dan demi yang genap dan yang ganjil.” (QS Al-Fajr: 1–3)
Selain itu, para ulama menjelaskan bahwa malam yang sepuluh itu adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dalam periode ini, setiap amal shalih memiliki nilai yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” (HR Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)
Untuk keutamaan puasa Arafah, M. Awaludin menuturkan, bagi yang tidak berhaji, cara paling utama untuk mengisi Hari Arafah adalah dengan berpuasa. Rasulullah menyampaikan bahwa puasa Arafah memiliki keutamaan luar biasa, yang artinya.
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)
” Masya Allah, sungguh luar biasa, satu hari puasa dengan ganjaran pengampunan dua tahun dosa, ini menjadi peluang besar yang sayang jika dilewatkan,” ujar M. Awaludin.
Disamping itu, pada hari Arafah, juga sebagai hari doa dan pengampunan, sebab, hari Arafah juga dikenal sebagai hari dikabulkannya doa. Rasulullah SAW bersabda.
أَفْضَلُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَأَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لَا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ (رواه الإمام مالك
Artinya: Doa yang paling utama adalah doa pada hari arafah dan sebaik-baik yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah kalimat tauhid, yaitu لَا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. (HR Imam Malik)
Selain itu, pada hari ini Allah SWT juga membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka lebih banyak, dari hari-hari lainnya.
“Bahkan, setan digambarkan sebagai makhluk yang paling hina, dan marah pada hari ini karena banyaknya manusia yang mendapatkan rahmat dan ampunan Allah SWT,” tuturnya.
Selain itu, M. Awaludin juga memaparkan amalan-amalan utama di 10 Hari Dzulhijjah,
untuk memaksimalkan keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah, berikut amalan-amalan yang sangat dianjurkan:
Pertama, puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah, terutama puasa Arafah, kedua, memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih, ketiga, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa, keempat, bersedekah, berzikir, dan beristighfar.
“Lalu kelima, berbakti kepada orang tua dan mempererat silaturahmi, keenam, ziarah kubur, menghadiri majelis ilmu, dan taubat nasuha, ketujuh, vagi yang akan berkurban, disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku sejak awal Dzulhijjah hingga kurbannya disembelih,” paparnya.
“Selain Hari Arafah, malam menjelang Idul Adha juga termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Imam Syafi’i dalam Al-Umm, menyebutkan bahwa malam Idul Adha termasuk di antara lima malam utama yang doanya dikabulkan oleh Allah SWT,” tutupnya.