IPARI KOTA BENGKULU – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Singaran Pati, Rita Saleha, S.Sos.I menjelaskan terkait bencana alam Gempa Bumi yang terjadi di Provinsi Bengkulu, beberapa hari yang lalu.
Dilansir dari data BPBD Provinsi Bengkulu, tercatat Gempa Bumi berkekuatan 6,3 Skala Richter (SR) ini, memakan 1 korban jiwa, 2 orang di rumah sakit dan 696 jiwa terdampak, serta 2 sekolah hingga perkantoran rusak berat.
Menurut Rita, kehidupan ini adalah rangkaian ujian dan cobaan. Terkadang kita dihadapkan pada bencana, sebuah peristiwa yang menguji kesabaran dan keimanan kita. Namun, sebagai seorang Muslim, kita harus memahami bahwa bencana tak lepas dari konsep takdir dalam Islam.
Dijelaskan Rita Saleha, dalam Islam, takdir terbagi menjadi dua jenis, yaitu
Takdir Mubram (Takdir yang Tidak Bisa Berubah) Ini adalah ketetapan Allah yang mutlak, yang tidak dapat dihindari atau dirubah oleh manusia.
“Contohnya adalah kematian, hari kiamat, atau jenis kelamin seseorang. Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung berapi seringkali termasuk dalam kategori ini, di mana kejadiannya adalah ketetapan Allah yang tidak bisa kita cegah,” tutur Rita Saleha.
Untuk lebih memperjelas, terdapat dalam Allah QS. Al-Hadid ayat 22.
فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
Lalu yang kedua, Takdir Mu’allaq (Takdir yang Bisa Berubah) Ini adalah ketetapan Allah yang masih bisa berubah melalui usaha, doa, dan ikhtiar manusia.
Misalnya, rezeki, kesehatan, atau keberhasilan dalam suatu usaha. Allah SWT memberikan kita ruang untuk berusaha dan berdoa agar takdir yang baik menghampiri kita, atau agar takdir yang kurang baik dapat dihindari atau diringankan.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits: “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.” (HR. Tirmidzi).
Ini menunjukkan bahwa doa, dan usaha sungguh memiliki peran dalam mengubah ketetapan Allah yang bersifat mu’allaq.
Sikap kita saat menghadapi bencana baik itu takdir mubram maupun mu’allaq, ada beberapa sikap yang seharusnya kita miliki sebagai seorang Muslim.
1. Sabar dan Ikhlas Bencana adalah ujian dari Allah
Bersabar dan ikhlas menerima ketetapan-Nya adalah kunci. Dengan kesabaran, Allah akan memberikan ganjaran yang besar.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 155-157:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
2. Tawakal kepada Allah
Setelah berusaha dan berikhtiar semaksimal mungkin, serahkanlah segala hasilnya kepada Allah. Percayalah bahwa setiap ketetapan-Nya adalah yang terbaik bagi kita, meskipun terkadang terasa pahit.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 159:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
3. Evaluasi Diri dan Bertaubat
Bencana bisa jadi merupakan teguran dari Allah agar kita kembali ke jalan-Nya. Muhasabah diri, perbanyak istighfar, dan bertaubatlah dari segala dosa.
Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 30:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
4. Berikhtiar dan Berdoa
Meskipun ada takdir yang tidak bisa dirubah, kita tetap diwajibkan untuk berikhtiar dan berdoa. Lakukan segala upaya pencegahan yang sesuai syariat dan akal sehat. Setelah bencana terjadi, berdoalah untuk pertolongan dan kemudahan dari Allah.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi)
5. Tolong-Menolong dan Berbagi
Ketika bencana menimpa, tunjukkanlah solidaritas dan kepedulian sesama Muslim. Ulurkan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Ini adalah bentuk ibadah dan wujud syukur atas nikmat yang masih kita miliki.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
“Bencana dan takdir adalah bagian dari rencana Allah SWT untuk hamba-Nya. Dengan memahami konsep ini dan menyikapinya dengan benar, Insya Allah kita akan menjadi hamba yang lebih baik dan lebih dekat dengan-Nya. Jadikan setiap musibah sebagai pengingat dan ladang pahala,” tutupnya.