IPARI KOTA BENGKULU – Ikatan Penyuluh Agama Islam Republik (IPARI) Provinsi Bengkulu, sukses menggelar program Bincang Kita Earth Love Hidup Dengan Eco Enzyme, live di Instagram @ipari_KotaBengkulu, Jumat (23/5/2025) lalu.
Program Bincang Kita ini, menjadi salah satu rangkaian Harlah ke II IPARI dari IPARI Provinsi Bengkulu.
Pemateri yang dihadirkan juga sangat berkompeten dibidang Eco Enzyme yaitu, Dria Suryo, S. Kom (PAI dari Bengkulu Utara/Praktisi Eco Enzyme) dan Susilawati, S. Pd. I (Pemenang PAI Award Provinsi Bengkulu 2025 Ketegori Lingkungan), untuk host acara, Zakiyah Hayati, MH yang merupakan PAI KUA Selebar Kota Bengkulu.
Ketua IPARI Provinsi Bengkulu, Drs. H. Siun, M.H.I mengatakan, program Bincang Kita ini dengan tema Earth Love Hidup Dengan Eco Enzyme ini, sebagai bentuk dukungan agar kita merawat bumi dengan sebaik mungkin.
“Pemateri yang kita hadirkan, betul-betul menguasai tentang Eco Enzyme ini, apalagi mereka sudah punya produk sendiri dari pengelolaan Eco Enzyme,” ujar Dr. Siun Rohan.
Dalam penyampaian pemateri dari Dria Suryo, dirinya menjelaskan terlebih dahulu apa itu Eco Enzyme.
Eco Enzyme adalah cairan serbaguna yang dihasilkan dari proses fermentasi limbah organik dapur seperti kulit buah dan sayur, gula (gula merah, gula pasir, atau molase), dan air. Proses fermentasi ini berlangsung selama kurang lebih 3 bulan dalam wadah tertutup, dan menghasilkan cairan berwarna coklat gelap dengan aroma khas asam manis.
Biasanya, kata Ustadzah Dria sapaan akrabnya itu, terdapat beberapa komposisi umum dari Eco Enzyme yang bisa digunakan. Pertama, Limbah organik : Kulit buah, sayuran (tidak termasuk daging atau produk susu).
Lalu yang kedua, Gula: Gula merah/gula pasir/molase – sebagai makanan untuk mikroorganisme fermentasi, dan terakhir, ketiga, Air bersih: Sebagai medium untuk proses fermentasi.
“Alhamdulillah, untuk di Bengkulu Utara pemanfaatan Eco Enzyme sudah kami terapkan, kami telah menghasilkan produk sendiri seperti sabun cuci piring, sabun kesehatan dan sabun cuci baju,” ungkap Dria saat menyampaikan materinya.
Untuk itu, kata Dria, dalam pengelolaan permentasi Eco Enzyme ini sebagai bentuk cinta kita terhadap bumi, sebab, bahan-bahan limbah yang terbuang begitu saja, bisa menjadi barang yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
“Alhamdulillah, kami sudah dapat penghasilan dari pemanfaatan Eco Enzyme ini,” tuturnya.
Untuk proses pembuatannya, Dria menjelaskan, pertama, campur semua bahan dalam wadah plastik bersih (jangan gunakan botol kaca karena tekanan gas bisa menyebabkan pecah). Kedua, tutup rapat tapi sesekali buka (sekitar 2-3 hari pertama) untuk melepaskan gas hasil fermentasi.
Lalu yang ketiga, simpan di tempat yang sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung. Keempat, tunggu selama 3 bulan.
Terkait manfaat Eco Enzyme ini, kata Dria tentunya banyak sekali untuk masyarakat, pertama, pembersih alami: Bisa digunakan untuk mengepel, mencuci piring, dan membersihkan kamar mandi. Kedua, pupuk organik: Baik untuk tanaman karena mengandung nutrisi dan mikroorganisme baik.
Ketiga, bisa juga untuk pengusir serangga: Efektif untuk mengusir nyamuk dan semut secara alami. Keempat, pengurai limbah: Bisa digunakan untuk mempercepat proses pengomposan.
“Terakhir yang kelima sebagai penjernih air: Dalam jumlah besar, eco enzyme bisa membantu memurnikan air limbah,” jelasnya.
“Eco Enzyme adalah solusi rumah tangga yang ramah lingkungan, dan murah untuk berbagai kebutuhan sehari-hari,” lanjutnya.
Sementara itu, dalam penyampaian materi dari Susilawati, mengapa pengelolaan Eco Enzyme sangat penting dilakukan, karena memiliki berbagai manfaat lingkungan dan kesehatan.
Sebab, Eco Enzyme yang dikelola dengan baik, dapat membantu mengurangi limbah organik rumah tangga, menghasilkan cairan serbaguna yang ramah lingkungan, serta memperbaiki kualitas tanah dan air.
Selain itu, proses pembuatannya juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, karena limbah organik tidak dibuang ke tempat pembuangan akhir.
“Dengan pengelolaan yang benar, potensi Eco Enzyme sebagai pembersih alami, pupuk cair, dan pengusir hama alami dapat dimaksimalkan tanpa menimbulkan bau atau gangguan lain selama fermentasi,” terangnya..
Selain itu, dijelaskan lebih jauh oleh Susilawati, dari hasil Eco Enzyme ini, apa yang didapatkan oleh bumi?
Pertama, mengurangi limbah organik : Limbah dapur seperti kulit buah, dan sayuran diolah menjadi sesuatu yang berguna, bukan dibuang ke TPA.
Lalu yang kedua, menurunkan polusi udara : Proses fermentasi Eco Enzyme membantu mengurangi emisi gas metana, yang biasanya muncul dari pembusukan sampah organik.
Ketiga, menjernihkan air : Eco Enzyme bisa digunakan untuk membantu membersihkan sungai, atau saluran air dari limbah kimia ringan. Keempat, meningkatkan kualitas tanah : Jika digunakan sebagai pupuk cair, Eco Enzyme dapat menambah kesuburan tanah secara alami.
“Terakhir yang kelima, mengurangi penggunaan bahan kimia : karena dapat dijadikan pembersih rumah tangga alami, ini mengurangi limbah bahan kimia berbahaya ke lingkungan,” tutupnya.