Rahmi Safnita : Qurban Ibadah yang Menyatukan Hati

IPARI KOTA BENGKULU – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Maura Bangkahulu, Rahmi Safnita, S.Ag mengatakan, setiap tahun, seluruh umat Islam di dunia menyambut datangnya Idul Adha dengan semangat untuk berqurban.

Ibadah ini bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT saja, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kepedulian sosial dan mempererat hubungan kemasyarakatan.

Terlebih, Qurban merupakan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya :

“Tidak ada suatu amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah SWT, daripada menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban itu akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka bersihkanlah jiwa kalian dengannya.” (HR. Tirmidzi)

Dijelaskan Rahmi, Ibadah Qurban meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan kesabaran Nabi Ismail AS.

Namun, sebenarnya lebih dari sekadar ritual, akan tetapi Qurban membawa pesan sosial yang sangat kuat, sebab membagikan kebahagiaan kepada sesama, khususnya kaum dhuafa yang jarang menikmati daging dalam keseharian mereka.

“Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi juga tentang menyentuh hati. Ketika daging dibagikan dengan ikhlas, ukhuwah pun tumbuh,” ujar Rahmi Safnita.

Selain itu, dalam praktiknya, dijelaskan Rahmi, untuk daging Qurban yang sudah dipotong sebaiknya dibagi menjadi tiga bagian, pertama, fakir miskin, kedua, kerabat dan tetangga, dan ketiga untuk yang berqurban sendiri.

Dipaparkan oleh Rahmi, kenapa daging Qurban dibagian menjadi tiga bagian, untuk yang pertama, dibagikan ke fakir miskin, sebab, Islam mengajarkan pentingnya berbagi kepada sesama, tentunya, daging Qurban yang sudah dipotong sebaiknya dibagikan ke masyarakat yang tidak mampu.

“Ini kan Hari Raya Idul Adha. Tentunya umat Islam harus merasakan kebahagiaan yang sama, bagi yang berqurban, bisa menyisihkan sedikit dagingnya ke masyarakat yang tidak mampu,” tuturnya.

Yang kedua, kata Rahmi, kerabat dan tetangga, sama halnya seperti yang pertama, berbagi bersama, sebab pahala yang diberikan oleh Allah SWT juga berlipat-lipat ganda, sembari memberikan kebahagian kepada sesama, karena menikmati daging Qurban bersama keluarga.

Yang ketiga, dibagikan untuk yang berqurban, setelah membagikan hasil qurban tadi ke fakir miskin, dan kerabat serta tetangga, maka sisa daging tadi juga harus dinikmati oleh yang berqurban itu sendiri.

“Untuk itu kami mengimbau, jangan takut untuk berqurban, takut tidak ada uang, dan alasan lainnya, sebab jika niat ada, maka Allah SWT akan membuka jalan rezeki untuk kita,” ungkapnya.

Disamping itu, Qurban juga mencerminkan keseimbangan antara ibadah kepada Allah SWT, dan kepedulian terhadap sesama manusia. Dengan pelaksanaan Qurban yang baik dan merata, kita turut menciptakan masyarakat yang lebih solid, saling peduli, dan jauh dari kecemburuan sosial.

Idul Adha sejatinya bukan hanya perayaan tahunan, tetapi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keikhlasan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial. Semoga setiap tetesan darah qurban menjadi saksi atas cinta dan kepedulian kita terhadap Allah SWT dan umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar