IPARI KOTA BENGKULU – Setiap tanggal 21 April, menjadi hari yang diingat seluruh perempuan di Indonesia, pasalnya, hari itu mengingatkan kita seorang perempuan tangguh bernama Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan hak-hak perempuan pada masa penjajahan di masa lampau.
Tentunya, perjuangan Raden Ajeng Kartini ini bukan sebagai simbol belaka saja, apalagi, dulunya banyak yang berpendapat perempuan itu tugasnya hanya di dapur, kasur dan sumur saja, melainkan, diera modern ini tugas seorang perempuan lebih hebat dari itu.
Sebab, dibalik laki-laki yang hebat, terdapat seorang perempuan yang luar biasa berada di belakangnya yang memberikan suport sistem kepada pasangannya itu.
Jika kita lihat dari perspektif dalam Islam, peran perempuan begitu besar adanya, apalagi di mata Allah SWT semua manusia itu sama baik laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya, mereka punya hak dan tugasnya masing-masing. Berikut penjelasannya.
1. Kesetaraan Hak dan Kewajiban dalam Islam
Dalam Al-Qur’an secara tegas menekankan kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Hal ini tertera pada surat An-Nisa ayat 1, Allah SWT berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّا حِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَا لًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَا لْاَ رْحَا مَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 1)
Dalam penjelasannya, bahwa ayat ini menunjukkan asal usul manusia yang sama, baik laki-laki maupun perempuan, dari Adam dan Hawa. Keduanya memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT. Kewajiban bertakwa dan memelihara silaturahim berlaku untuk keduanya.
Sebab, tugas laki-laki dan perempuan itu berbeda, mereka punya bagian sendiri yang tidak bisa dikerjakan oleh laki-laki ataupun perempuan.
Seperti contoh, tugas laki-laki bila sudah bekeluarga wajib bekerja untuk memberikan nafkah ke istri, dan anaknya serta mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, laki-laki juga dituntut sebagai pelindung bagi keluarganya, menjadi dari segala macam berbahaya dan menjadi imam bagi keluarga, baik dari segi akhlak, sifat dan lainnya.
Sedangkan tugas perempuan, jika sudah bekeluarga dituntut untuk patuh pada suami, disamping, menjaga, merawat dan mendidik anak agar menjadi anak yang sholeh dan sholeha. Selain itu, peran perempuan juga sangat penting, dimana dia berperan dibelakang layar dalam kesuksesan suaminya.
Dimana perempuan sebagai suport sistem yang luar biasa untuk suaminya, disaat sang suami sedang dilanda musibah dan lainnya. Seorang istri juga menjadi orang pertama disaat sang suami sedang bahagia.
Sedangkan jika perempuan belum bekeluarga, maka dia dituntut untuk menjaga kehormatannya dari lelaki hidung belang, yang ingin merenggut kesuciaannya.
2. Pendidikan dan Pengembangan Diri
Islam sangat menganjurkan pendidikan bagi seluruh umat, termasuk perempuan. Al-Qur’an banyak memuji orang-orang yang berilmu pengetahuan. Dalam surat Al-Mujadilah ayat 11, Allah SWT berfirman:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)
Maka dari itu, pendidikan tidak hanya terbatas pada pengetahuan agama, tetapi juga mencakup ilmu pengetahuan umum lainnya. Kartini, dengan segala upayanya dalam memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong pengembangan potensi diri setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin.
3. Peran Perempuan dalam Keluarga dan Masyarakat
Islam memberikan peran penting bagi perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Perempuan memiliki peran sebagai ibu, istri, dan anggota masyarakat yang aktif berkontribusi.
Al-Qur’an juga menjelaskan tentang hak dan kewajiban perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Untuk itu, perjuangan Kartini dapat dilihat sebagai upaya untuk mewujudkan ajaran Islam tentang kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Namun, penting untuk memahami bahwa emansipasi dalam Islam berbeda dengan konsep emansipasi yang sekuler.
Emansipasi dalam Islam menekankan pada pengembangan potensi diri perempuan sesuai dengan fitrah dan nilai-nilai agama, dengan tetap menghargai peran unik perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Hari Kartini hendaknya menjadi momentum untuk merefleksikan bagaimana kita dapat mengimplementasikan ajaran Islam dalam memperjuangkan kesetaraan dan kemajuan perempuan di Indonesia, tanpa mengabaikan nilai-nilai keislaman.
*(Achmad Fadian – Penyuluh Agama Islam)