Merenungi Hakikat Ramadan: Sebuah Refleksi dari Kajian Ustadz Andi Andri di RRI Bengkulu

Oleh : Lia Herliawati

IPARI Kota Bengkulu. Ramadan kembali hadir sebagai bulan penuh berkah, membawa serta sejuta harapan bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: sejauh mana Ramadan benar-benar mengubah diri kita? Apakah kita hanya menjalani ritual ibadah ataukah benar-benar memahami esensi penghambaan kepada-Nya?

Dalam program Mutiara Ramadan yang disiarkan oleh RRI Bengkulu pada Ahad, 23 Maret 2025, Ustadz Andi Andri, M.Ag, seorang Penyuluh Agama Islam yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Islam (IPARI) Kota Bengkulu, mengangkat tema menarik: “Memahami Tugas Hamba Kepada Allah Melalui Bulan Suci Ramadan.”

Dari pemaparan beliau, tergambar jelas bahwa Ramadan bukan sekadar bulan untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga momen refleksi bagi kita untuk memahami hakikat seorang hamba. Sayangnya, bagi sebagian orang, Ramadan masih dipahami sebatas rutinitas tahunan: sahur, puasa, berbuka, tarawih, dan tadarus. Namun, apakah setelah Ramadan berlalu, ada perubahan dalam diri kita?

Ustadz Andi Andri menekankan bahwa tugas utama seorang hamba kepada Allah tidak hanya berhenti pada ibadah ritual, tetapi juga meliputi kepatuhan dalam setiap aspek kehidupan. Puasa tidak hanya mengajarkan kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari amarah, kebencian, dan keburukan lainnya.

Namun, realitasnya, masih banyak yang terjebak dalam formalitas ibadah. Kita sering melihat orang yang berpuasa tetapi tetap mudah marah, tetap menggunjing, atau bahkan masih berbuat zalim. Bukankah ini bertentangan dengan tujuan Ramadan itu sendiri? Jika ibadah yang dilakukan tidak berdampak pada perilaku, lantas di mana letak penghambaan kita kepada Allah?

Program Mutiara Ramadan di RRI Bengkulu adalah salah satu bentuk dakwah yang mampu menjangkau masyarakat luas. Di era digital seperti sekarang, penyampaian pesan keagamaan tidak lagi cukup hanya melalui mimbar masjid, tetapi harus lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Media seperti radio, televisi, dan platform digital lainnya menjadi sarana yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat yang semakin sibuk dan teralihkan oleh hiruk-pikuk duniawi.

Ustadz Andi Andri menegaskan pentingnya pemanfaatan media dalam menyebarkan ilmu agama. Jika dakwah tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, maka lambat laun ia akan kehilangan relevansinya di mata generasi muda yang semakin akrab dengan dunia digital.

Setelah menyimak kajian ini, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apa yang akan kita bawa dari Ramadan tahun ini? Apakah sekadar ibadah yang dilakukan secara mekanis, ataukah benar-benar ada perubahan dalam diri kita?

Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri. Jika kita selama ini masih mudah tersulut emosi, jadikan Ramadan sebagai latihan kesabaran. Jika kita selama ini kurang peduli terhadap sesama, jadikan Ramadan sebagai titik awal untuk meningkatkan empati dan kepedulian sosial. Jika kita selama ini abai terhadap ibadah, jadikan Ramadan sebagai pintu menuju ketaatan yang lebih konsisten.

Seperti yang disampaikan Ustadz Andi Andri, seorang hamba sejati tidak hanya menjalankan ibadah karena kewajiban, tetapi juga karena kesadaran dan kecintaan kepada Allah SWT. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menahan diri dari segala hal yang bisa menjauhkan kita dari-Nya.

Maka, mari kita renungkan: setelah Ramadan usai, apakah kita akan kembali seperti sebelum Ramadan, ataukah kita benar-benar berubah? Jawaban atas pertanyaan ini ada pada diri kita masing-masing. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *