Manusia Setengah Dewa

Dakwah Bil Hikmah1732 Dilihat

IPARI KOTA BENGKULU – Tulisan ini saya tulis untuk orang-orang yang memiliki penyakit Narcissistic Personality Disorder (NPD), tapi mereka tidak menyadari bahwa punya penyakit itu diri mereka sendiri. Saya menyebut mereka seperti “Manusia Setengah Dewa”.

Kenapa saya menyebutnya “Manusia Setengah Dewa” karena orang ini tidak pernah merasa salah, angkuh, sombong, sering meremehkan orang lain, haus akan perhatian orang lain, merasa paling hebat dan merasa paling benar. Itulah kenapa saya menyebutnya “Manusia Setengah Dewa”.

Lantas apa itu Narcissistic Personality Disorder (NPD), dilansir dari beberapa sumber ternama, NPD merupakan penyakit ngangguan kesehatan mental yang ditandai, dengan rasa percaya diri terlalu tinggi, sikap manipulatif, serta seperti “haus” akan perhatian dan kekaguman oleh orang lain.

“Manusia Setengah Dewa” yang saya lihat sulit memiliki teman dekat, sebab, jika orang tersebut terlalu dekat dengan “Manusia Setengah Dewa” ini, diibaratkan mau berteman tapi mau mencari-cari kesalahan kita.

Saya contohkan, kita punya teman seperti “Manusia Setengah Dewa” ini, hanya masalah sepele saja, apa yang mereka pendam selama berteman dengan kita, mereka sebutkan semua, seperti api yang begitu meledek-meledak.

“Manusia Setengah Dewa” ini selalu menceritakan kehebatannya terus, dalam artian haus akan pujian, tanpa mendengarkan cerita orang lain, disamping mencari informasi-informasi penting untuk menjatuhkan kita. naudzubillah min dzalik.

Seperti firman Allah SWT Surah Al-Hujurat ayat 12, manusia yang suka mencari kesalahan orang lain.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12).

Terlebih lagi, banyak penderita “Manusia Setengah Dewa” ini tidak menyadari kondisi yang dialaminya, sehingga sering kali membuatnya sulit untuk berhubungan baik dengan orang lain.

Dilansir dari beberapa sumber ternama, “Manusia Setengah Dewa” memiliki ganggung kepribadian narsisistik, biasanya mulai terlihat di usia remaja hingga awal masa dewasa. Kondisi ini bisa disebabkan oleh banyak hal, tetapi umumnya karena karakteristik bawaan (genetik) atau pengaruh pola asuh di masa kecil.

Misalnya, seseorang sejak kecil dimanja oleh orang tua secara berlebihan, sehingga selalu mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain. Saat beranjak dewasa, dan segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, orang tersebut pun akan kesulitan untuk mengendalikan emosi.

Lantas bagaimana cara kita memahami “Manusia Setengah Dewa” ini? biasanya personalitynya terlihat menawan dan karismatik seperti ingin dipuji oleh orang lain. Selain itu, sering kali tidak langsung menunjukkan sifat aslinya di depan orang lain, terutama dalam hubungan asmara. Ia juga cenderung lebih senang berada di lingkungan pertemanan yang bisa selalu memberinya pujian.

“Manusia Setengah Dewa” ini, hanya dapat ditetapkan oleh seorang profesional kesehatan mental. Jadi disini saya hanya berbagi pengamalan saja kepada para pembaca setia website IPARI KOTA BENGKULU.

Secara garis besar, inilah beberapa gejala “Manusia Setengah Dewa” yang perlu dipahami:

1. Ingin mendapatkan perlakuan istimewa

“Manusia Setengah Dewa” biasanya akan merasa sedih dan kecewa ketika ia tidak diberi bantuan, atau perlakuan spesial dari orang lain, karena ia merasa pantas untuk mendapatkannya. Ia menganggap dirinya penting, istimewa, dan layak diberi perhatian khusus oleh orang lain.

Sebagai contoh, “Manusia Setengah Dewa” ini meminta tolong dengan kita menghubungi melalui WhatsApp, tapi tidak kita gubris, setelah ketemu langsung raut wajah yang marah, kesal atau bahkan mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pantas untuk didengar, lalu WhastsApp kita langsung diblokir, karena tidak mengharapkan perhatian atau perlakuan lebih secara tidak wajar.

2. Selalu haus akan pujian

Ciri-ciri paling umum dari seorang “Manusia Setengah Dewa” adalah selalu “haus” akan pujian atau kekaguman dari orang lain. Orang dengan gangguan kepribadian ini, merasa perlu mendapatkan pengakuan dari orang lain dan sering kali menyombongkan pencapaiannya, bahkan melebih-lebihkannya, hanya untuk dipuji oleh orang lain.

3. Menolak kritik, selalu merasa benar, dan suka mencari perhatian

Meski tidak menunjukkannya secara langsung, namun, “Manusia Setengah Dewa” ini sebenarnya sering merasa cemas, tidak mampu, penuh keraguan, dan kehampaan dalam dirinya.

Semua perasaan tersebut ditutupinya dengan mencari pengakuan dari orang lain bahwa dia ini orang yang hebat, menolak kritik sekecil apapun, tidak mau mengakui saat dirinya salah, merasa dirinya benar, dan sering berperilaku berlebihan untuk mencari perhatian orang lain.

4. Bersikap manipulatif

“Manusia Setengah Dewa” ini, pada awalnya mungkin mencoba untuk menyenangkan orang lain dan membuat orang terkesima padanya. Itu untuk orang baru kenal dengan “Manusia Setengah Dewa” ini.

Namun, pada akhirnya nanti, kepentingan dan kebutuhan dirinya sendiri yang akan diutamakan dan selalu didahulukan. Ia pun tak segan-segan untuk menjatuhkan orang lain, di saat orang sudah berharap padanya.

Saat berhubungan dengan orang lain, penderita “Manusia Setengah Dewa” ini, biasanya menggunakan metode “tarik-ulur” untuk membuatnya merasa menjadi orang yang dominan atau “pengendali” dalam hubungan asmara ataupun di dunia pekerjaan.

5. Suka memanfaatkan atau mengeksploitasi orang lain

“Manusia Setengah Dewa” ini, biasanya memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri, baik secara sadar maupun tidak.

Bahkan walaupun menfaatkan orang itu, dirinya bisa saja menjatuhkan orang itu didepan orang lain, tanpa sepengetahuan orang yang dia manfaatkan selama ini.

Ia cenderung membangun hubungan pertemanan, atau bisnis berdasarkan apa yang orang lain mampu berikan padanya, misalnya perihal harta atau status sosial. Ia juga mungkin mengeksploitasi kemampuan orang lain untuk menguntungkan dirinya sendiri.

6. Tidak memiliki teman yang terjalin lama

“Manusia Setengah Dewa” ini pada umumnya sering mengalami konflik dengan orang lain. Ia mungkin hanya memiliki sedikit teman dekat, atau bahkan tidak memiliki teman sama sekali yang benar-benar dekat secara intens.

Bila memiliki teman dekat, “Manusia Setengah Dewa” ini sangat sensitif dan protektif sehingga bisa saja cemburu, bila teman dekatnya bergaul dengan orang lain. Ia mungkin akan membuat teman dekatnya merasa bersalah atas apa yang dilakukannya.

7. Terlihat sangat percaya diri dan dominan

“Manusia Setengah Dewa” ini sering menampilkan dirinya yang penuh percaya diri, tegas, dan terkesan mampu mendominasi orang lain. Ia suka memiliki kendali terhadap orang lain dan takut untuk kehilangan kendalinya.

Bahkan, ia berkeyakinan bahwa dirinyalah yang terbaik dari segala sisi, baik dalam hal pekerjaan, asmara dan lainnya.

Padahal, nyatanya semua itu hanyalah seperti sebuah “topeng” untuk menutupi rasa harga diri dan percaya dirinya yang rendah. Ia pun secara tidak sadar terlarut dalam dunia fantasi kehidupan yang ia ciptakan sendiri.

8. Kurangnya rasa empati terhadap orang lain

“Manusia Setengah Dewa” ini juga ditandai dengan kurangnya rasa empati kepada orang lain.

Karena sifatnya inilah sering kali mengatakan atau melakukan hal-hal yang menyakiti perasaan orang lain, dan tidak memikirkan bagaimana tindakannya berdampak pada orang lain.

9. Merasa paling superior

Merasa lebih unggul dan superior dari orang lain, juga termasuk tanda gejala “Manusia Setengah Dewa” ini, karena punya perilaku arogan, angkuh, dan meremehkan, terutama terhadap orang dengan status sosial yang lebih rendah.

10. Iri pada orang lain atau yakin bahwa orang lain iri padanya

“Manusia Setengah Dewa” ini memiliki rasa iri yang besar terhadap orang lain, dan ia akan menghabiskan banyak waktu untuk berusaha memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain.

Lalu bagaimana cara menghadapi “Manusia Setengah Dewa” ini ?

Sikap “Manusia Setengah Dewa” ini, bisa menyebabkan masalah di kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan asmara, pekerjaan, maupun pertemanan. Orang lain pun akan sulit menjalin hubungan dengan “Manusia Setengah Dewa” ini, karena cenderung tidak senang berada di dekatnya.

Padahal, “Manusia Setengah Dewa” ini, sebenarnya mungkin tidak menyadari akan kondisi mentalnya ini, dan ia juga tidak sadar akan perlakuannya terhadap orang lain.

Oleh karena itu, inilah beberapa tips dalam menghadapi “Manusia Setengah Dewa”.

1. Tetapkan batasan dalam berhubungan

Perlu diingat, bahwa bukan tugas atau tanggung jawab kamu untuk mengendalikan emosi orang lain.

Namun cobalah untuk memberikan komentar dengan hati-hati dan kata-kata yang positif. Kalau bisa, hindari perdebatan langsung dengan “Manusia Setengah Dewa” ini karena akan terasa sia-sia saja. Jika ia mengamuk atau emosinya tidak terkontrol, cobalah meresponnya dengan tenang.

2. Jalin hubungan erat dengan teman-teman lain yang bisa membawa energi positif

Perlu diingat juga, “Manusia Setengah Dewa” ini biasanya tidak berubah sekalipun, walaupun kamu berusaha mengelola dengan baik hubungan dengannya. Bila dipaksakan, hubungan tersebut mungkin akan selalu mengarah pada toxic relationship.

Pada dasarnya, penderita kondisi ini merasa ia tidak pernah cukup baik untuk dirinya sendiri. Sehingga, upaya kamu dan orang-orang di sekitarnya, dengan memberikan perhatian atau kasih sayang pun tidak akan pernah cukup memuaskannya.

Jika kamu menemui “Manusia Setengah Dewa” yang tulis ini, ada sebaiknya dibawa ke psikolog, kalau itu keluarga terkedat kamu.

Semoga kita dijauhkan oleh orang-orang yang ingin berbuat jahat, menjatuhkan kita. Aamiin.

(Achmad Fadian, S.Sos – Penyuluh Agama Islam KUA Sungai Serut)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *