Khutbah Jumat : 4 Sikap Seorang Muslim Ketika Pergantian Tahun Baru Islam

Khutbah Jumat149 Dilihat

Oleh : Sukran Jayadi, S.Sos.I, M.Pd.I
(Ketua PD IPARI Kota Bengkulu dan Penyuluh Ahli Madya Kementerian Agama Kota Bengkulu)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ,ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ . أَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، أمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ الله تَعَالىَ فِى كِتَابِهِ الْكَرِيمِ. اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ… إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jama’ah Jum’at yang berbahagia.

Hari ini kita berada di Jumat pertama tahun 1447 Hijriyah tepatnya adalah 1 Muharram 1447 H atau bertepatan tanggal 27 Juni 2025 M. Begitu cepat waktu berlalu, Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan kini tahun pun telah berganti.

Setiap pergantian satuan waktu adalah momentum bagi kita untuk bermuhasabah atau mengevaluasi diri. Muhasabah adalah keharusan bagi seorang muslim. Allah SWT telah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  (QS. Al Hasyr {59}: 18)

Dengan datangnya tahun baru 1447 H, sikap kita sebagai seorang muslim paling tidak melakukan 4 (empat) hal berikut, sebagai upaya untuk menjaga keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat dengan bekal yang terbaik. Adapun keempat sikap tersebut adalah :

1). Mu’ahadah (Memiliki kesungguhan dalam ibadah)

Jamaah sholat Jum’at rahimakumullah.

Dalam surat Al Hasyr ayat 18 tersebut Allah memerintahkan kita untuk melakukan muhasabah. Namun Allah mengawalinya dengan perintah taqwa. Taqwa inilah manifestasi dari mu’ahadah kita kepada Allah SWT.

Karena sebelum lahir ke dunia, kita telah diambil janji setia kepada Allah. Kita semua lupa perjanjian di alam ruh itu, tapi Al Quran mengingatkan kita.

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al Araf {7}: 172)

2). Muhasabah (Perbanyak Mengevaluasi diri)

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia.

Ketika menjelaskan Surat Al Hasyr ayat 18, Ibnu Katsir mengingatkan sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab mengingatkan:

 حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

Hisablah diri kalian sendiri sebelum dihisab Allah. Lakukan muhasabah di dunia ini sebelum dihisab Allah di akhirat nanti.

Kita telah berjanji setia kepada Allah untuk beribadah dan bertaqwa kepada-Nya. Kita kemudian diingatkan untuk mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dalam rangka memenuhi mu’ahadah itu, sebagai bekal untuk masa depan.

 وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ

“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al Hasyr: 18)

Ghadd (غد) yang dimaksud dalam ayat ini menurut para mufassir artinya adalah akhirat.

Dan ciri orang bertaqwa itu menurut syaidina Ali Bin Abi Tholim Karamulah Wajha adalaha Wal Istidadul yaumil rahil yaitu menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan yang lebih panjang yaitu kehidupan akhirat.

Cobalah kita luangkan waktu untuk bermuhasabah. Jika tahun ini sholat kita ada yang bolong, kita perlu membuat target, berjanji kepada Allah, muahadah, agar tahun depan sholat lima waktu kita lengkap.

Jika tahun ini sholat lima waktu kita telah lengkap tapi belum berjamaah, kita perlu membuat target, berjanji kepada Allah, muahadah, agar tahun depan sholat lima waktu kita berjamaah.

Jika tahun ini kita sudah sholat berjamaah tapi sering jadi makmum masbuk, kita perlu membuat target, berjanji kepada Allah, muahadah, agar tahun depan kita tidak sering lagi menjadi makmum masbuk.

Begitupula dengan puasa kita, tilawah Al-Quran, termasuk pula sedekah dan amal sholeh yang lainnya mesti ada progres setiap waktunya.

Sebab muhasabah itu harus berujung pada perbaikan diri. Peningkatan amal shalih. Semakin dekat dengan dengan realisasi muahadah kita sebagai seorang muslim.

3). Muqarrabah (Menjaga kedekatan dengan Allah)

Setelah menyerukan muhasabah, Allah mengikutinya dengan kembali menyerukan taqwa. Wattaqullah. Dan inilah satu-satunya ayat dalam Al Quran yang di dalamnya ada dua perintah taqwa.

Ini mengisyaratkan bahwa muhasabah itu sangat penting. Dan muhasabah itu harus membuat kita semakin dekat dengan Allah, muqarrabatullah.

Karenanya sering kali muhasabah melahirkan target-target baru yang bertujuan supaya kita lebih dekat kepada mu’ahadah terbesar kita, sehingga kita semakin dekat kepada Allah dan semakin bertaqwa.

4). Muraqabah (Merasakan adanya pengawasan Allah)

Ayat ini kemudian ditutup dengan firman-Nya:

 إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)

Khabir (خبير) biasa diterjemahkan menjadi Maha Mengetahui. Namun kekhususan sifat Khabir ini, Allah Maha Mengetahui sekaligus akan mengabarkan di akhirat nanti. Allah Maha Mengetahui segala yang dikerjakan oleh hamba-Nya dan Allah akan mengabarkan itu di yaumi hisab, yaumil mizan.

Apa pun yang kita lakukan. Baik itu dalam kesendirian atau di tengah keramaian. Apakah tersembunyi atau terang-terangan.

Allah mengetahui semuanya dan kelak di akhirat akan ditampilkan-Nya kepada seluruh manusia. Bahkan amalan hati pun Allah mengetahuinya.

Firman Allah ini mengingatkan kita agar memiliki sikap merasa diawasi oleh Allah (Muraqabah) dan sekaligus sebagai kontrol kita dalam bersikap dan berbuat atau dikenal dengan Muraqabatullah.

Semoga momentum pergantian tahun hijriyah ini kembali menumbuhkan semangat muhasabah (evaluasi diri) kita. Muhasabah dalam rangka memenuhi muahadah (kesungguhan), membuat kita memiliki muqarrabah (Kedekatan dengan Allah) dan menguatkan muraqabah (mersakan adanya pengawasan Allah).

Hadirin jamaah sholat Jum’at rahimakumullah.

Demikian khutbah Jumat kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita untuk menampilkan pribadi yang terbaik di tahun 1447 Hijriah.

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَاتٍ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *