IPARI KOTA BENGKULU – Dalam rangka upaya mewujudkan peran aktif penyuluh agama dalam pelestarian lingkungan hidup, salah satu cara, dengan fermentasi Eco Enzyme.
Ini juga yang dilakukan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama(KUA) Kecamatan Sungai Serut, M. Supriyono, M.Pd.I.
Supriyono menjadi penggiat gerakan pemanfaatan limbah rumah tangga, menjadi produk ramah lingkungan melalui fermentasi Eco Enzyme. Salah satu bahan utama yang digunakan adalah air cucian beras yang pertama, dikombinasikan dengan molase dan larutan E4.
Langkah ini menjadi inovasi praktis dalam mendukung program “Islam Cinta Bumi” yang diusung oleh Kementerian Agama.
Dijelaskan Supriyono, Eco Enzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik seperti kulit buah, sayuran, atau air cucian beras dengan gula sebagai bahan pemicu fermentasi.
Proses ini melibatkan mikroorganisme baik yang membantu menguraikan limbah organik menjadi larutan multifungsi. Di tangan, M. Supriyono, Eco Enzyme tidak hanya dimaknai sebagai upaya kebersihan dan kelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab khalifah di bumi.
” Saya sudah lama memanfaatkan Eco Enzyme ini, mulai cara pembuatan Eco Enzyme sederhana dari air cucian beras pertama. Air cucian beras yang sering dibuang begitu saja, kini dimanfaatkan menjadi bahan dasar fermentasi, ditambah dengan molase sebagai sumber gula, dan E4 sebagai penguat mikroorganisme,” ujar Supriyono.

Untuk Komposisi umum pembuatan Eco Enzyme ini, 10 liter air cucian beras pertama, 1 liter molase dan 100 ml larutan E4.
Semua bahan dicampur dalam wadah tertutup dan difermentasi selama 30–90 hari. Selama proses fermentasi, bakteri baik akan berkembang, dan menguraikan senyawa organik menjadi enzim yang bermanfaat.
“Setelah fermentasi selesai, cairan ini bisa digunakan sebagai pupuk organik, pembersih alami, pengusir hama, hingga pengharum alami untuk kebersihan rumah ibadah,” jelasnya.
Menurutnya, peran PAI tidak hanya fokus pada pembinaan keagamaan, tetapi kini memperluas dakwahnya ke bidang lingkungan hidup. Melalui pendekatan spiritual dan edukatif, para penyuluh mengaitkan pentingnya menjaga alam dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan adalah firman Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 56, yang artinya, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.”
Ayat ini menjadi dasar moral bahwa manusia memiliki tanggung jawab, untuk tidak merusak dan sebaliknya memelihara bumi sebagai amanah Allah SWT.
Disamping itu, dari hasil fermentasi Eco Enzyme memiliki berbagai manfaat yang sangat besar, terutama dalam mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya. Berikut beberapa kegunaannya.
Pertama, pupuk cair alami yang meningkatkan kesuburan tanah, kedua, cairan pembersih ramah lingkungan untuk masjid atau sekolah, ketiga, pestisida alami untuk pertanian organik, dan keempat, penghilang bau tidak sedap dan limbah dapur.
“Dengan memanfaatkan air cucian beras yang sebelumnya dibuang percuma, masyarakat dapat menciptakan produk yang berguna serta mengurangi volume sampah cair,” tuturnya.
Dari hasil pemanfaat Eco Enzyme ini, Supriyono sudah berhasil menamam, buah jambu air, terong dan masih banyak lagi didepan pekarangan rumahnya itu.