IPARI KOTA BENGKULU – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sungai Serut, Harmida, S.Ag menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan ada manusia yang “lupa kacang akan kulitnya.”
Ini adalah pepatah lama yang menggambarkan seseorang yang melupakan asal-usulnya, atau jasa orang lain setelah ia sukses atau berada di posisi yang lebih baik.
Namun, dalam versi yang sedikit berbeda, kita bisa menggunakan istilah “manusia lupa kacang tanpa kulit” untuk menggambarkan betapa manusia seringkali tidak tahu diri, melupakan kebaikan dan nikmat yang diberikan, serta mengabaikan siapa dirinya jika tidak dibungkus oleh rahmat dan kasih sayang Allah SWT.
Manusia pada dasarnya diciptakan dalam keadaan lemah, kemudian diberi kekuatan dan kemampuan oleh Allah SWT. Tetapi tidak jarang, saat ia sudah mencapai kesuksesan atau kemudahan, ia lupa pada siapa yang memberi nikmat tersebut.
Dia merasa segala pencapaiannya adalah karena usaha dirinya sendiri, tanpa mengingat peran Allah SWT dalam setiap langkah hidupnya.
Fenomena ini bukan hal baru. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT, banyak mengingatkan manusia agar tidak menjadi sombong dan lupa diri setelah mendapat nikmat. Salah satunya dalam Surah Al-A’raf ayat 10, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ مَكَّـنّٰكُمْ فِى الْاَ رْضِ وَجَعَلْنَا لَـكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
“Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”
Ayat ini menegaskan bahwa segala fasilitas, dan kenikmatan yang manusia miliki berasal dari Allah, tetapi kebanyakan manusia justru tidak bersyukur.
Rasa syukur ini sering kali hilang saat manusia berada dalam zona nyaman. Saat kesulitan, manusia berdoa dengan khusyuk, tetapi ketika sudah diberi kemudahan, upa kepada Tuhannya.
“Bukan hanya lupa kepada Allah SWT, tapi juga lupa akan kebaikan orang lain, inilah yang membuat Allah murka akan hal ini” ujar Harmida.
Selain itu, Harmida juga menjelaskan dari Hadits Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar tidak lupa diri. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim disebutkan, yang artinya.
“Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Muslim)
Hadis ini, kata Harmida, menunjukkan bahwa menghargai kebaikan dan jasa orang lain adalah bentuk syukur kepada Allah SWT.
Maka ketika seseorang melupakan siapa yang membantunya, atau melupakan kondisi asalnya yang dahulu sulit, sejatinya sedang tidak bersyukur kepada Allah.
Jika dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan bisa sangat beragam. Ada orang yang dulunya susah, hidup dari bantuan dan kerja keras orang tua atau orang sekitar. Namun setelah berhasil, ia tak hanya melupakan mereka, tapi bahkan merendahkan.
“Inilah bentuk “kacang tanpa kulit”, manusia yang lupa bahwa tanpa “kulit” (orang tua, guru, sahabat, bahkan Allah), dirinya bukanlah siapa-siapa,” jelasnya.
“Seseorang yang dulunya dibantu oleh teman atau kerabat saat jatuh, tetapi ketika sudah sukses, tidak mau lagi menoleh pada mereka. Bahkan mungkin menganggap mereka tidak penting. Ini adalah bentuk kesombongan yang dikecam dalam Islam,” lanjutnya.
Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7.
وَاِ ذْ تَاَ ذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Ayat ini adalah janji sekaligus peringatan. Bersyukur membawa keberkahan, tetapi kufur nikmat akan membawa kehancuran.
“Marilah kita menjadi manusia yang tahu diri, menghargai masa lalu, mengenang jasa orang, dan tak pernah lupa kepada Allah, Sang Maha Pemberi Nikmat,” tutupnya.