Oleh : Heri Putra Efendi, S.Sos.I (Penyuluh Agama Islam KUA Ratu Samban)
الله أكبر…. الله أكبر…. الله أكبر،
الله أكبر…. الله أكبر…. الله أكبر،
الله أكبر …. الله أكبر…. الله أكبر، ولله الحمد
الْحَمْدُ للهِ الذي صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ،
اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ،
أمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
وقالَ الله تعالى:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَهِيْمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ يَا بُنَيَّ إِنَّ الله اصْطَفَىلَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
الله أكبر ولله الحمد
Ma’asyirol Muslimin, Jamah Sholat Id’ yang dirahmati Allah
Segala Puji Bagi Allah Azza Wajalla, Tiada nama yang patut kita sanjung seagung nama-Nya. Sholawat dan salam mari senantiasa kita curahkan kepada baginda Rosulullah Nabi Muhammad SAW.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Sholat Id’ Rohimakumullah
Hari ini adalah hari yang sarat makna bagi kita mengingatkan akan sebuah peristiwa bersejarah dalam islam, perjuangan dan pengorbanan mulia Nabiyullah Ibrohim AS
Pengorbanan yang telah membuktikan ketakwaan dan kecintaan-nya kepada sang Kholiq, melebihi diatas segala-galanya hingga diabadikan menjadi teladan bagi umat manusia.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ
Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada ibrohim (al-Mumtahanah: 4)
Jamaah yang berbahagia
Setidaknya ada 3 hikmah i’tibar hikmah qurban bagi kita, Semangat Pengorbanan bukti cinta seorang hamba
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak (1). Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah (2)
Jemaah rohimakumullah
Mari kita bermuhasabah, dari sekian banyak nikmat yang Allah berikan, sudah kita memberikan pengorbanan yang terbaik dijalan Allah?
Mari kita merenung pengorbanan para sahabat nabi di jalan Allah. Demikian hebatnya pengorbanan ini hingga Allah abadikan kisah tentangnya dalam Al Quran surat Al Baqarah: 207.
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Mushab bin Umair, yang rela mengorbankan segala fasilitas kemewahan yang diberikan oleh orang tuanya dalam rangka bertekad mengikuti agama yang dibawa oleh Muhammad saw.
Berawal dari glamour hidup mewah, hidup serba berkecukupan berbalik hingga menjalani kehidupan dengan teramat bersahaja. Bahkan saat syahid dalam perang Badar tidak ada sekadar kain yang dapat digunakan untuk menutupi jenazah beliau.
Bila kain yang dikenakan ditarik untuk menutupi wajahnya maka terlihatlah kakinya, dan sebaliknya bila kain ditarik untuk menutupi kakinya maka tersingkaplah wajahnya.
Rasulullah SAW pun berlinang air mata melihat kondisinya yang sangat bersahaja itu.
Shuhaib bin Sinan juga dicatat dalam sejarah karena pengorbanan yang sangat menakjubkan.
Dia adalah pengusaha muda sukses di kota Mekkah, saat hijrah ke Madinah seluruh harta dan bisnisnya ditinggalkannya! Semua dikorbankannya karena cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ammar bin Yasir juga melakukan hal yang sama, pengorbanan dengan taruhan nyawa hingga mengantarkan orang-orang yang dicintainya menjadi syahid dan syahidah pertama dalam sejarah Islam.
Yasir dan Sumayyah, ayah dan ibu yang tercerai berai jasadnya di depan mata.
Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Abudzar al Ghifari dan sederetan para pemuda cermelang dengan kekuatan keimanan yang telah dibuktikan dengan pengorbanan sulit tertandingi hingga akhir zaman.
Kalau seorang nabi, seorang rosul saja masih diuji keimanan dan loyalitasnya kepada Allah, Nabi Ibrohim di uji seberapa tangguh pengorbanannya kepada Allah, nah apalagi kita?, hamba yang tentu lebih layak diuji oleh Allah SWT.
Inilah makna Ibadah Qurban yang kita harapkan, yaitu mampu memupuk keimanan, penghambaan diri manusia dan kesungguhan untuk siap membuktikan kecintaan kepada Allah SWT diatas segala-galanya.
Baik harta kita, tahta, keluarga, jabatan, kehormatan dan lainnya.
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui. (Al-Imron: 92).
Sejatinya Amal itu adalah Taqwa
Dan sungguh apapun yang dikorbankan kembali kepada diri kita sendiri.
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. (Al-Hajj: 37)
Dan spirit Pengorbanan ditunjukkan oleh Nabiyullah Ibrahim As, keridhoan beliau karena taqwa kepada Allah SWT.
Allah menggambarkan pengorbanan Ibrahim itu dalam sebuah dialog yang indah dalam QS. ash-Shaffat: 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Jama’ah sholat id rohimakumullah,
Sejatinya kita diperintah untuk beribadah dan bersyukur, bukan untuk kemaslahatan atau kemuliaan Allah sebagai Tuhan kita, namun justru sebaliknya.
Semua amal yang dikerjakan itu semua kembali untuk kemaslahatan dan kebaikan diri hamba itu sendiri.
Kitalah yang membutuhkan Allah, bukan Allah, bukan Tuhan yang membutuhkan kita
Diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Dzar Al-Ghifari, dalam hadits Qudsi, Bahwa Rosulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman:
Yaa ‘Ibaadii Law Anna Awwalakum Wa Aaakhirokum Wa Insaakum Wajinnakum Kaa Nuu ‘Alaya Atqoya Qolbi Rojuliwwaahidim Minkum Maa Zaada Dzalika Fii Mulkii Syaiaa Wa Alaya Afjari Qolbi Rojuliwwaa Hidim Maa Naqosho Dzalika Mim Mulkii Syaiaa
Wahai Hamba-ku sekiranya seluruh manusia dan jin dari awal hingga akhir, bertakwa seperti ketaqwaan orang yang paling bertakwa di antara kalian, maka semua itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun.
Wahai Hamba-ku sekiranya seluruh manusia dan jin dari awal hingga akhir, durhaka seperti durhakanya orang yang paling durhaka di antara kalian, maka semua itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun.
Yaa “ibaadii (wahai hambaku), Innamaa Hiya A’maa lukum UhshiiHa Lakum (Semua Itu Hanyalah Amal kalian yang Aku pelihara untuk Kalian), Tsumma Uwaffiikum Iyyaa HAa (Kemudian Aku kembalikan kepada kalian), Famaw wajada Khoirong Falyah madillah (Barang siapa yang menerima balasan yang baik, maka hendaklah ia memuji Allah), Wamaw Wajada ghoiro dzalika Falaa yaluu Anna illaa NafsaH (dan Barang siapa yang menerima selain itu atau keburukan, hendaklah ia tidak menyalahkan selain dirinya sendiri).
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Jemaah Rohimakumullah
Teruslah berlomba-lomba dalam melakukan amal-amal kebaikan
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (Al-Baqoroh: 148).
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (Al-Kahfi: 46)
Jemaah rohimakumullah
Ada beberapa pesan mulia yang disampaikan oleh para ulama kita:
Ibnu Rajab Al-Hambali rohimahullah mengatakan, “Para sahabat rosulullah, mereka paham betul, sangat memahami bahwa mereka harus berlomba untuk meraih kemuliaan di surga. Jika di antara mereka melihat orang lain mendahului mereka dalam beramal sholeh, mereka pun bersedih karena telah kalah dalam hal itu. Inilah bukti bahwa mereka ingin menjadi hamba Allah yang terdepan dan terbaik.”
Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Jika engkau melihat orang lain mengunggulimu dalam hal dunia, maka kalahkanlah ia dalam hal akhirat.”
Wuhaib bin Al Ward rahimahullah juga berpesan, “Jika engkau mampu, tidak ada yang bisa mengalahkanmu dalam hal akhirat, maka lakukanlah.”
Sebagian salaf (orang-orang sholeh terdahulu) mengatakan, “Jika engkau mendengar ada yang lebih taat pada Allah darimu, seharusnya engkau bersedih karena telah kalah dalam hal ini.”
Jama’ah rohimakumullah
Gelorakan semangat peka sosial
Melalui ibadah qurban dan idul adha, bersama mewujudkan sosok pribadi yang peka ritual (hablumminallah) dan peka sosial (hablumminannas).
Sosok hamba yang tidak ingin bahagia dalam kesendirian, tetapi merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan.
MasyaAllah, indah sekali hidup ini jika kita mengarunginya dengan penuh kebersamaan, ukhuwah dan penuh kasih sayang.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menggambarkan ciri saudara yang peka sosial:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453.
Jemaah Rohimakumullah
Ketahuilah, bahwa saat kita memberikan manfaat kepada orang lain, semuanya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah SWT berfirman:
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ…
“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri …”
(QS al-Isrâ/ 17: 7).
Dan sabda Rasulullah saw:
… وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ
“… dan barangsiapa (yang bersedia) membantu keperluan saudaranya, maka Allah (akan senantiasa) membantu keperluannya.” (Hadits Riwayat Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz III, hal. 168, hadits no. 2442 dan Muslim, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 18, hadits no. 6743 dari Abdullah bin Umar r.a)
Akhirnya marilah kita berdo’a bersama, mengakui segala kekurangan dan kelemahan kita sembari memohon ampun dan bertaubat atas segala dosa dan kesalahan kita, serta memohon petunjuknya:
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ, يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ القُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَا فِيَةِ اْلأَجْسَادِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِاْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ya Allah, Ya Rohman Ya Rohim…..
Kami agungkan asma kebesaran-mu Ya Rohman, karena engkaulah dzat yang Maha Mulia, kami tadahkan tangan kehadirat-mu Ya Rohim, karena engkaulah dzat yang Maha Mengabulkan Doa. Ya Allah yang Maha Pengasih, kami adalah hamba-hambamu yang lemah, yang kerapkali terpedaya oleh bujukan syetan, yang terkadang bergelimang dalam kubangan dosa dan kesalahan; di pagi yang suci ini, kami bersimpuh di hadapanmmu ya robb, kami datang menghadapmu ya robb..seraya tak bosan-bosan mengetuk pintu rahmatmu ya Allah, memohon ampun atas segala kesalahan yang telah kami perbuat.
Wahai yang maha suci, wahai yang maha bijaksana, ampunilah dosa-dosa kami yang telah meruntuhkan segala kebaikan kami dan yang mendatangkan bencana. Ampunilah dosa-dosa kami yang menghancurkan karunia, ampunilah dosa-dosa kami yang menghalangi doa, ampunilah dosa-dosa kami yang menjadi sebab turunnya bala bencana, sebab sungguh tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali engkau ya Allah…yang Maha Pengampun, Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Ya Allah…. Maafkanlah kami ya Allah, apabila selama ini kami terlalu banyak berbuat dosa dan kesalahan, apabila selama ini kami telah lupa diri dan tidak pandai mensyukuri segala nikmat dan karuniamu.
Duhai Allah, ampunilah segala dosa dan kesalahan kedua orang tua kami, ibu dan bapak kami yang telah mengasuh, mendidik dan membesarkan kami dengan segala kepayahan dan penderitaan mereka.
Tanpa kami sadari ya Allah, begitu banyak dosa kedurhakaan yang kami perbuat kepada mereka selama ini. Begitu sering kami menyakiti hati mereka. Ya Allah….ampunilah mereka, kasihanilah mereka, terimalah segala amal mereka dan tempatkanlah mereka terbaik disisi-Mu.
اللهم اغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات
Ya Allah, kumpulkanlah hati kami di atas dasar kecintaan kepada-mu, pertemukanlah perjuangan kami di jalan ketaatan kepada-mu, satukanlah semangat kami di jalan dakwah-mu, dan ikatlah hati ini di atas janji setia demi membela syari’at-mu. Laa ilaaha illa anta subhanaka innaa kunnaa minal zhalimiin.
Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat sebagai tempat kembali kami, berikanlah kepada kami kekuatan lahir dan batin untuk menjalani sisa-sisa kehidupan kami, agar betul-betul menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur dan terus beramal sholeh.
Ya Allah, lindungilah kami dari penguasa-penguasa yang fasik dan zholim. Anugerahkan kepada kami pemimpin-pemimpin yang beriman kepada-mu, yang adil dan alim. Yang membawa kami ke jalan yang benar dan kesejahteraan, bukan jalan angkara dosa dan kesengsaraan.
Ya Allah, Ya Karim, berikanlah kekuatan, keselamatan, dan rahmat bagi saudara kami yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji dalam memenuhi panggilan-Mu. Mudahkanlah segala urusan mereka ya Allah, agar mereka dapat menyelesaikan rangkaian ibadah haji dan kembali ke tanah air dalam keridhoan-Mu.
Jadikanlah mereka haji yang mabrur disisi-Mu ya Robb. Ya Allah, ya robbi, anugerahkan pula kepada kami, kemampuan untuk memenuhi panggilan-Mu ditanah suci. Agar kami sempurnakan keimanan kami.
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ