Oleh: Elly Agustina, S. Sos.I, M.TPd. (Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Singaran Pati Kota Bengkulu dan Sekretaris IPARI Kota)
IPARI KOTA BENGKULU – Saat ini, jamaah haji sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakan puncak dari ibadah Haji. Jamaah Haji mulai dimobilisasi menuju Arafah. Pada moment ini, jamaah haji biasanya mengalami perasaan campur aduk antara senang, haru, sedih, khawatir bahkan rasa takut yang mungkin saja dihadapi.
Bagaimana tidak mereka melewati begitu banyak waktu, tahapan dan pengorbanan untuk sampai pada moment ini.
الحجُّ عرفةُ , فمن اَدْرَكَ لَيْلَةَ عرفةَ قبلَ طُلُوْعِ الفَجْرِ من ليلةِ جُمَعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّـهُ
“Haji adalah wukuf di Arafah. Maka siapa yang mendapati ‘Arafah pada malam hari sebelum terbit fajar, sesunggunya dia telah mendapat haji” [Hadits Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah]
Arafah, Mina dan Muzdalifah adalah pembeda dengan ibadah umrah. Rangkaian ibadah umrah lainnya bisa saja sudah dilakukan oleh siapa pun yang pernah berumrah.
Tapi puncak Haji, Armuzna hanya dirasakan oleh jamaah yang pernah berhaji, dan tentu saja rasanya tidak akan pernah sama setiap tahunnya setiap orangnya. Masing-masing akan mengalami pengalaman yang berbeda satu sama lainnya.
Pada puncak Haji, jamaah diminta untuk mampu mengurus diri sendiri, walaupun pemerintah telah menyiapkan skenario tersendiri untuk menangani para Lansia, jamaah beresiko tinggi, penyandang disabilitas, pengguna kursi roda dan lainnya.
Tahun lalu pemerintah menerapkan strategi Safari Wukuf, bagi jamaah haji dengan keterbatasan tersebut dan murur yang diterapkan antara lain untuk mengatasi masalah transportasi, kepadatan dan menghindari resiko kelelahan bahkan kehilangan nyawa jamaah haji.
Namun bagi Jamaah diluar kategori tersebut harus mampu mengurus dirinya sendiri, bahkan dapat membantu jamaah lainnya yang berada dalam kesulitan, karena jumlah petugas haji yang ditugaskan acapkali tidak sebanding dengan jamaah haji, sehingga sangat dibutuhkan kerjasama dari para jamaah.

Saat menjadi Petugas Haji Tahun 2024, saya melihat banyak hal dari ibadah Arafah. Kita bisa melihat sifat dan watak manusia yang sesungguhnya. Ada yang bersabar atas kekurangan dan kesulitan, ada yang selalu merasa kurang dan diliputi amarah, ada yang sibuk dengan ibadahnya sendiri, ada yang dengan murah hati dan ringan tangan saling membantu sesama jamaah.
Sungguh Arafah adalah potret kecil dari dinamika dunia. Jamaah biasanya akan diuji dengan urusan perut, tempat tidur, MCK, interaksi antar sesama Jamaah, transportasi, cuaca bahkan peraturan, dan kebijakan yang bisa saja berubah sewaktu-waktu dan tentu saja tidak semua bisa sukses melewati tanpa rekam masalah.
Maka jika disebut ibadah haji adalah ibadah fisik, itu benar adanya. Meskipun demikian kekuatan spiritual terkadang mampu mengalahkan keterbatasan fisik. Menjadi pemandangan umum yang menakjubkan melihat orang tua atau yang memiliki keterbatasan, bisa menyelesaikan puncak haji dengan tenang, aman dan khusyuk.
Hal yang cukup menarik pada Arafah adalah masih banyak jamaah yang tidak paham hakikat Arafah, sebagai tempat dan waktu yang istimewa untuk berdo’a dan beribadah.
Masih ada saja jamaah yang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang bermanfaat seperti mengobrol lama, bermain HP dan lainnya.
Untuk itu menjadi hal penting bagi jamaah haji dan para pembimbingnya, memberikan bekal ilmu yang cukup dalam melaksanakan ibadah haji, agar ibadah yang telah ditunggu puluhan tahun dengan biaya yang tidak sedikit, dan pengorbanan tenaga yang luar biasa tidak menjadi sia-sia, agar ibadah haji benar-benar menjadi sebuah perjalanan spiritual yang mengugah jiwa raga, agar jamaah bisa lebih maksimal dalam beribadah sehingga gelar mabrur-mabrurah bukan lagi sekedar harapan semata.