IPARI Kota Bengkulu Bersih-Bersih Rumah Ibadah

News864 Dilihat

IPARI KOTA BENGKULU – Dalam mensukseskan rangkaian kegiatan Hari Lahir (Harlah) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) ke dua, IPARI Kota Bengkulu gelar bersih-bersih rumah ibadah.

Puluhan Penyuluh Agama di Kota Bengkulu, tampak antusias membersihkan rumah ibadah yang dipusatkan, di Masjid Agung At-Taqwa yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Jumat (30/5/2025).

Ketua PD IPARI Kota Bengkulu, Sukran Jayadi, M.Pd yang wakilkan oleh Sekretaris PD IPARI, Elly Agustina, M.TPd mengatakan, kegiatan bersih-bersih rumah ibadah ini dalam rangka memeriahkan Harlah IPARI ke dua.

“Alhamdulillah, Penyuluh Agama di Kota Bengkulu tampak begitu semangat melaksanakan gotong royong membersihkan Masjid Agung At-Taqwa,” ujar Elly Agustina.

Dijelaskan Elly, kenapa dipusatkan di Masjid Agung At-Taqwa, sebab, Masjid At-Taqwa menjadi salah satu icon Kota Bengkulu, apalagi masjid tersebut milik Pemerintah Kota (Pemkot).

“Tentunya, harus kita jaga kebersihannya demi kenyamanan ibadah, apalagi Islam adalah agama cinta kebersihan,” tuturnya.

Untuk tema Harlah IPARI ke dua, Penyuluh Agama Cinta Bumi: Zero Waste dan Eco Enzyme. Dijelaskan Elly, bagi yang belum tau apa itu Zero Waste dan Eco Enzyime berikut penjelasannya.

Tampak para penyuluh agama antusias gotong royong bersama

Zero Waste dan Eco Enzyme adalah sebuah program atau pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kesadaran lingkungan, khususnya dalam mengatasi masalah sampah dan pencemaran lingkungan.

Program ini bertujuan untuk memberdayakan para penyuluh agama agar menjadi agen perubahan, yang mengajak masyarakat hidup lebih ramah lingkungan dengan pendekatan spiritual dan religius.

Tentunya diawali dengan Penyuluh Agama Cinta Bumi, penyuluh agama adalah orang yang memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat.

Dalam konteks “Cinta Bumi”, para penyuluh ini tidak hanya menyampaikan ajaran agama secara umum, tapi juga menyampaikan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari amanah Tuhan.

“Jadi fungsi utamanya adalah, pertama, memberikan edukasi keagamaan yang mengarah pada kepedulian lingkungan, kedua, mendorong masyarakat menerapkan, gaya hidup berkelanjutan. Ketiga, mengaitkan semua ajaran agama (Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu) dengan tanggung jawab terhadap alam,” jelasnya.

Lalu apa itu Zero Waste, Elly menjelaskan,
Zero Waste (tanpa sampah) adalah konsep untuk mengurangi jumlah sampah, yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) dengan cara.

1. Mengurangi (Reduce): Membeli dan menggunakan barang secukupnya.

2. Menggunakan kembali (Reuse): Memakai kembali barang-barang yang masih layak pakai.
Mendaur ulang (Recycle): Mengolah sampah menjadi produk baru.

3. Mengomposkan (Compost): Mengolah sampah organik menjadi kompos.

Untuk Eco Enzyme, Elly menerangkan, bahwa IPARI Kota Bengkulu telah menggelar program Bincang Kita Earth Love Hidup Dengan Eco Enzyme, live di Instagram @ipari_KotaBengkulu, Jumat (23/5/2025) lalu.

Pemateri yang dihadirkan juga sangat berkompeten dibidang Eco Enzyme yaitu, Dria Suryo, S. Kom (PAI dari Bengkulu Utara/Praktisi Eco Enzyme) dan Susilawati, S. Pd. I (Pemenang PAI Award Provinsi Bengkulu 2025 Ketegori Lingkungan).

“Kegiatan ini sejalan dengan program ekoteologi yang dicanangkan Kementerian Agama RI, kita juga menunjukkan bahwa kehadiran penyuluh berdampak untuk umat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *