Hikmah Dibalik Tenggelamnya Kapal Wisatawan Pulau Tikus Yang Menyebabkan 8 orang Meninggal Dunia

Penulis : Lides Putriani, S.HI (Penyuluh Agama Islam KUA Teluk Segara)

 

Peristiwa kapal wisatawan tenggelam di perairan Pantai Malabero Bengkulu, pada minggu (11/5/2025), pukul 16.00 WIB. Mengakibatkan sebanyak 8 orang dilaporkan meninggal dunia. Kapal wisatawan tersebut sebelumnya jalan dari Pulau Tikus yang akan menuju Pantai Malabero Bengkulu.

Isak tangis dari keluarga korban kapal naas tersebut menjadi duka pemerintah provinsi Bengkulu. Banyak yang menduga-duga bahwa pihak penyedia layanan wisata dituding agak abai terhadap keselamatan penumpang. Kapal itu dimuat 104 orang penumpang. Ada juga netizen yang menuding bahwa Nahkoda kapal kurang profesional. Bermacam-macam komentar yang datang.

Namun, jika ingin menyadari, bahwa setiap musibah itu sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Mari kita simak ayat At-Thagabun ayat 11

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ١١

Artinya : Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Jika kita menyimak dari ayat tersebut, bahwa setiap musibah atas izin allah SWT. Sebagai orang yang beriman, hendaknya kita menerima atas ketetapan yang Allah berikan.

Maka jika kita mendapatkan musibah, hendaklah kita melakukan beberapa Hal.

  1. Bersabar

Jika kita bersabar maka allah akan membersamai kita. Sebagaimana ditegaskan dalam surat Albaqarah ayat 153 menegaskan :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

 

Maka ketika kita menghadapi kepanikan, detik detik sebelum kapal tenggelam hendaknya para penumpang dalam keadaan bersabar dan banyak banyak menyebut nama allah. Ketika kita bersabar dan selalu menyebut nama Allah, maka insya allah, allah akan membersamai kita dan memberikan pertolongan.

  1. Menerima Takdir

Di dalam Al-Qur’an sendiri, kata musibah disebutkan sebanyak 77 kali, termasuk dalam surah Al Hadid ayat 22.

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

Artinya: Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhulmahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.

Berdasarkan Tafsir Al-Wajiz oleh Syaikh Prof Dr Wahbah Az-Zuhaili, isi kandungan surah Al Hadid ayat 22 ialah menjelaskan terkait musibah di Bumi dan musibah yang menimpa diri seseorang.

Semua musibah tersebut telah tertulis di Lauhul Mahfuzh yang berarti sebelum Allah SWT menciptakan apapun.

“Tidaklah yang menimpa kalian wahai manusia berupa musibah di bumi seperti kegersangan, kurangnya buah-buahan, wabah penyakit tanaman, mahalnya harga dan lain-lain serta musibah yang menimpa diri kalian seperti sakit, kefakiran dan kehilangan anak itu kecuali telah ditulis di Lauhul Mahfuzh sebelum kami menciptakan apapun,” tulis tafsir tersebut.

Surah Al Hadid ayat 22 menegaskan bahwa apa yang terjadi di alam semesta, semuanya merupakan kehendak Allah yang mutlak, yang artinya manusia tidak bisa menolak. Konsep takdir ini dalam ilmu akidah disebut dengan takdir kauni.

Dalam buku Selesaikan Segala Resahmu dengan Doa dan Munajat oleh Salman Al-Farisi, ketika menghadapi takdir Allah yang sifatnya kauniyah, seorang muslim harus sabar.

Sabar sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu sabar berbuat taat, sabar menahan diri dari maksiat, dan sabar ketika mendapat musibah.

Mengutip buku Syarah Aqidah Wasithiyah tulisan Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, hukum-hukum Allah bersifat syar’iyah dan kauniyah.

Syar’iyah berarti semua perintah dan larangan Allah SWT, maka kesabaran dan ketaatan kepada-Nya adalah kesabaran atas semua perintah, kesabaran atas semua maksiat, dan kesabaran atas semua larangan.

Sementara itu, kauniyah harus disikapi dengan sabar atas semua takdir dan qadha Allah SWT.

  1. Bersikap Istirja dan Bersabar atas Musibah

Bersabar menjadi reaksi manusia ketika dihadapi oleh musibah oleh Allah SWT, sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:

Sabar adalah pada hantaman yang pertama,” (HR Al-Bukhari).

Dikatakan dalam buku Fiqih Musibah oleh Farid Nu’man Hasan, bersabar menjadi sikap terbaik bagi seorang mukmin. Ini sesuai dalam firman Allah pada surah Al Baqarah ayat 155-157.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS Al Baqarah ayat 155).

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,” (QS Al Baqarah ayat 156).

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ

Artinya: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk,” (QS Al Baqarah ayat 157).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *