Khutbah Jumat : Mengundang Rahmat Pertolongan Allah SWT

Khutbah Jumat859 Dilihat

IPARI KOTA BENGKULU – Bagi kamu yang sedang mencari teks Khutbah Jumat, berikut kita bagikan Naskah Khutbah Jumat dari Ust. Heri Putra Efendi, S.Sos.I, yang merupakan Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ratu Samban. Semoga bermanfaat.

Khutbah 1 :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَوَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
أَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُلاَ نَبِيَ بَعْدَهُ، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، أمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
وقالَ الله تعالى: اعوذبالله من الشيطان الر جيم
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وقال ايْضاً: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
وقال تعالى ;يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

Jama’ah Jum’at rohimakumullah.

Setiap orang pasti dan perna menemui masalah dalam hidupnya. Dan hidup di dunia ini, sudah pasti banyak masalah. Masalah dengan diri sendiri, keluarga, orang lain, pekerjaan, karir, bisnis, dan masalah-masalah yang lainnya.

Oleh Karena itu, Prof. K.H. Didin Hafidhuddin mengatakan “Rahmat (cinta dan kasih sayang Allah SWT) bagi setiap orang yang beriman merupakan suatu kebutuhan yang bersifat mutlak. Sebab, hanya dengan rahmat dan pertolongan-Nya, selain usaha dan kerja keras, kita akan bisa menyelesaikan bermacam masalah dalam kehidupan ini, sekaligus mampu menghadapi berbagai tantangan dan godaan.”

Allah menciptakan manusia dengan segala keterbatasan dan kelemahannya disamping kelebihan dan kekuatannya, inilah mengapa kita memerlukan pertolongan Allah.
Sungguh aneh jika ada manusia yang merasa bahwa ada urusan yang tidak memerlukan Allah, dengan kata lain tidak sejalan dengan apa yang digariskan oleh Allah.

Bahwa manusia itu sesungguhnya bersifat lemah dan sangat memerlukan pertolongan-Nya. يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS.4:28)

Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan masalah adalah bagian dari karunia Allah, masalah dapat menjadi musibah jikalau kita salah menyikapinya. Seperti ujian di Sekolah !

Ujian menjadi karunia karena memberikan kesempatan seseorang untuk bisa naik kelas.
Justru murid yang tidak ujian bisa dianggap tidak sekolah. Dan, seseorang yang tidak lulus ujian, bukan disebabkan oleh soal-soal dalam ujiannya, akan tetapi karena dia salah menjawab soal-soalnya.

Begitulah gambaran masalah yang kita temui dalam hidup ini, maka tugas kita adalah berupaya mencarikan solusi yang terbaik atas masalah, dan berupaya agar kita tidak salah dalam menyikapinya. Subhanallah.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT.

Imam Ali Ash-Shabuni menuturkan “..Sesungguhnya besar kecilnya suatu masalah tidaklah diukur dari bentuk masalahnya itu, akan tetapi diukur dari adakah pertolongan Allah atau tidak.

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (Albaqarah ayat: 214)

Kalau Allah hadir dan menolong hamba-Nya, maka sebesar dan seberat apapun masalahnya, maka niscaya masalah itu akan menjadi mudah, menjadi kecil dan bahkan ringan sekalipun.

Sebaliknya, jika Allah tidak menolong kita, maka seremeh apapun masalah yang muncul bisa menjadi berat, susah, sulit, bahkan semakin kusut.

Jamaah rohimakumullah.

Inilah yang kita harapkan, adanya rahmat pertolongan Allah hadir dalam setiap sendi kehidupan kita, hadir dalam aktivitas kita, hadir dalam kehidupan dan kematian kita. Hidup ini terasa berat, kecuali ada pertolongan Allah Swt.

Kita menyadari bahwa segala hal ada dalam genggaman-Nya. Termasuk masalah yang menimpa kita saat ini ada dalam kuasa-Nya., demikian pula jalan solusinya.

Ketika Allah hadir bersama kita, membantu kita, bukankah sangat mudah bagi-Nya untuk menurunkan rahmat ketenangan dan kemudahan bagi hamba-Nya.

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗوَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (QS. Al Fath [48]: 4)

Jama’ah jum’at Rohimakumullah

Lalu tugas kita saat ini adalah bagaimana mengundang datanglah Rahmat Pertolongan Allah ?

Jamaah rohimakumullah,

“Sungguh pertolongan Allah akan hadir dan datang karena ketaatan dan kepasrahan kita kepada-Nya. Sebaliknya, pertolongan Allah akan jauh karena kemaksiatan dan kezholiman kita. Oleh karenanya, jika kita menginginkan rahmat pertolongan-Nya, maka tugas kita adalah bersegera mendekat kepada-Nya. Dengan cara memperbaiki diri dan melakukan amal-amal yang bisa mengundang datangnya pertolongan Allah SWT.”

Yang pertama: Bertaubat kepada Allah,
Kita sadari bahwa masalah muncul terkadang bahkan sering Karena ulah kita, Karena sikap dan perbuatan kita. Karena itu tugas kita bersegera mengintrospeksi diri, apakah sebab musabah hal yang muncul boleh jadi Karena khilafan dan kezholiman.

Maka marilah kita benahi dengan bertaubat kepada-Nya, taubat yang sesungguhnya.
Kita belajar kepada nabi Yunus as saat di dalam perut ikan paus.

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam Keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam Keadaan yang sangat gelap:

“Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. dan Demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiyaa’ : 87-88)

Yang Kedua adalah Berdo’a

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al Baqarah:186)

Cara nomor dua agar mendapatkan pertolongan Allah tentu dengan cara meminta kepada-Nya. Dan seperti tertulis diayat diatas, Allah sudah berjanji akan mengabulkan permintaan kita. Maka berdo’alah!

“Tapi saya sudah berdo’a, belum juga dikabulkan.” Mari kita baca lagi pada Ujung Ayat (QS. Al Baqarah:186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-mu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a.” [QS. Al-Baqarah: 186]

Subhanallah, sungguh Allah itu Maha dekat. Allah mengambulkan permohonan orang berdo’a.

Apakah Al Quran salah? Apakah Allah akan mengingkari janji-Nya? Jawabannya tentu tidak. Al Quran tidak mungkin salah dan pasti Allah menepati janjinya.

Jika do’a kita tidak dikabul, kira-kira siapa yang salah?

Yah, boleh jadi karena kita sendiri yang salah. Entah saat etika kita berdo’a kita memaksa Allah atau sikap kita terhadap do’a itu sendiri kurangnya keyakinan, dll. Kalau pun tidak salah, mungkin masih ada yang kurang saat kita berdo’a.

Bahkan Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada hamba-Nya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu dibiarkannya kosong dan kecewa.” (HR. Hakim).

Jadi mengapa do’a kita belum atau tidak dikabul? Padahal sudah sangat jelas Allah akan mengambulkan setidap do’a hamba-Nya. Nah … ada sesuatu …. “pada hamba-Nya”.

Apakah kita benar-benar telah menjadi hamba-Nya? Yang benar-benar menghambakan diri beribadah kepada-Nya? Atau hanya ingat saat ada kesulitan saja? hanya ingat kepada Allah saat butuh saja. Inilah bahan evaluasi kita semua. Sejauh mana kita benar-benar menjadi hamba Allah.

Atau kita sering melupakan-Nya? Marilah dalam kondisi apapun, senang dan susah tetap ingat Allah dan beribadah dengan rajin sebagaimana layaknya sebagaimana hamba-Nya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila kamu berdoa, janganlah berkata, ‘Ya Allah, ampunilah aku kalau Engkau menghendaki, rahmatilah aku kalau Engkau menghendaki, dan berilah aku rezeki kalau Engkau menghendaki.’

Hendaklah kamu bermohon dengan kesungguhan hati sebab Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya dan tidak ada paksaan terhadap-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang hatinya lalai dan lengah.” (HR. Ahmad).

Yang ketiga: Pertolongan Allah Datang Kepada Orang yang Menolong Agama Allah.

Bukan berarti Allah tidak berdaya sehingga berharap pertolongan dari manusia, tetapi ini bentuk perintah sekaligus ujian bagi kita apakah kita mau mengikuti perintah Allah.

Dan Allah berjanji (yang tidak mungkin ingkar) bahwa akan menolong kita jika kita menolong agama Allah.

Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad:7).

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS.Al Hajj : 40).

Cara menolong agama Allah, tiada lain dengan menegakan kalimat Allah di muka bumi, dengan cara berdakwah dan berjihad serta peduli dengan umat-Nya yang sedang dilanda kesulitan seperti saudara kita di Palestina atau kondisi musibah saat ini.
Ini jelas membantah pendapat yang mengatakan kita tidak usah repot memikirkan negara orang lain, sebab negara kita pun banyak masalah.

Justru dengan menolong negara orang lain, adalah bagian dari menolong agama Allah yang akan mendatangkan pertolongan Allah bagi negeri kita.

Yang ke-empat: Bertakwalah Kepada Allah
Jelas, bagi yang bertakwa pertolongan Allah akan datang berupa jalan keluar dari masalah kita.

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaq:2).

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya jalan kemudahan dalam urusannya.(QS. Ath Thalaq:4)

Yang ke-lima: Shabar dan Shalat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ” (QS. Al Baqoroh [2]: 153).

Sejauh mana sabar kita? Apakah kita masih mengeluh? Apakah kita masih mengatakan sabar itu ada batasnya? Jika pertolongan Allah tidak kunjung tiba, mungkin kita perlu memeriksa tingkat kesabaran kita.

Sejauh mana kita tetap teguh dalam kebenaran?

Begitu juga, jika pertolongan Allah terasa jauh, bagaimana dengan shalat kita? Apakah kita hanya melakukan shalat tanpa benar-benar mendirikan shalat dalam segenap kehidupan kita.

Apakah kita merasa shalat sebagai penggangu aktivitas? Apakah shalat hanya sebagai pelengkap hidup?
Sejauh mana kita mengetahui cara shalat yang benar atau hanya ikut-ikutan saja? Sejauh mana hati kita ada saat kita melakukan shalat?

Jangan dulu mengeluh karena pertolongan Allah tidak juga menghampiri kita, mungkin sabar dan shalat kita yang masih perlu benahi.

Sholat adalah dzikir yang paling sempurna, bacaan yang komplit: takbir, tahmid, tasbih, tahlil. Dalam sholat ada Al Fathihah dan ayat-ayat lainnya dari Al Quran. Dalam sholat ada banyak rangkaian doa dan hajat kita kepada Allah Swt.

Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin urusannya dibereskan oleh Allah, maka hendaklah kita perbaiki kualitas dan kuantitas ibadah sholat kita. Mungkin selama ini, ibadah sholat kita masih belum khusyuk, masih sering kita lalaikan, kita abaikan atau bahkan bermain-main dengan sholat kita, naudzubillah, berarti kita bermain-main dengan pertolongan Allah.

Tingkatkan kualitas dan kuantitas shalat kita.
OK, kualitas sich masuk akal, artinya kita menambah khusyu’ shalat kita. Tapi apa maksudnya kuantitas? Bukankah shalat kita sudah ditetapkan jumlah rakaatnya? 17 rakaat dalam sehari?

Betul. Itu sich shalat wajib. Kita bisa meningkatkan kuantitas shalat kita dengan menambah shalat sunatnya. Banyak kan? Ada shalat tahajud, dhuha, hajat, taubat, dan rowatib. Ayo, sudah dilaksanakan semua?

Yang ke-enam: Sudahkah Kita Melepaskan Kesulitan Orang lain?

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya“. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

Saya juga sedang bermasalah, butuh pertolongan, tapi harus melepaskan kesulitan orang lain? Bagaimana mungkin?
Lah, itu Rasulullah yang bersabda. Pasti benar. Ikuti saja. Jika ada teman, saudara, tetangga, atau siapa pun yang sedang kesulitan, bantu saja. Maka Allah akan melepaskan kesusahan kita. Yakin, itu hadist shahih.

Jadi bukan meminta orang lain melepaskan kesulitan kita, justru sebaliknya kitalah yang melepaskan kesulitan orang lain.

Hadits ini ditujukan buat kita. Buat saya juga buat Anda. Bukan buat orang lain. Jadi jangan nyuruh orang lain melepaskan kesulitan Anda dengan bermodalkan hadits ini. Bukan itu maksudnya.

Tapi maksudnya adalah amalkan hadits ini dengan cara melepaskan kesusahan orang lain.

Tentu saja boleh (bahkan bagus) menyampaikan hadits ini kepada orang lain dalam rangka dakwah, bukan ngarep agar dia menolong Anda. Meminta tolong kepada manusia juga boleh, tapi yang terpenting kepada Allah. Manusia hanyalah wasilah. Kita juga harus bisa membedakan, kapan mengamalkan hadits ini, kapan mendakwahkan.

Beda! Jika berharap pertolongan Allah, amalkan. Bantulah kesusahan orang lain.

Penutup

Bahkan salah satu dari doa-doa yang terkandung di dalam sholat kita adalah, “Ihdinashshirootol mustaqiim (Tunjukilah kami ya Allah kepada jalan yang lurus)”.K

ita memohon kepada Allah petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan keselamatan, jalan kebahagiaan yang sejati. Subhanallah, setiap kali kita mengucapkan doa ini, baik kita sedang khusyu’ ataupun tidak, Allah pasti mendengarnya.

Tujuh belas kali dalam sehari semalam dalam sholat fardhu kita, dan sejatinya juga bahwa do’a ini Allah kabulkan buat kita, mendapatkan pertolongan Allah..selamat di dunia ini dan akhirat nanti ! InsyaAllah, Aamiin.

Bahkan Rosululloh SAW, mengajarkan do’a khusus kepada kita.

يَـــامُـقَلِّبَ الْـقُلُـــــــــــوْبِ، ثَـبِّتْ قَـلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3522, Ahmad VI/302, 315 dan Sahabat Ummu Salamah dan al-Hakim 1/525 dan Sahabat an-Nawas bin Sam’an, dishahihkan dan disepakati oleh adz-Dzahabi.)

Dalam do’a lainnya, rosulullah bermunajat kepada Allah “Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.”

Subhanallah, semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita, memberikan kekuatan kepada kita dan melimpahkan rahmat pertolongan-Nya kepada kita dalam menghadapi berbagai masalah yang ada, sehingga terang-benderang dengan jalan keluar yang terbaik disisi-Nya. Dan hal ini tidak bisa kita tempuh selain dengan mendekat terus kepada-Nya. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Masalah hadir dan terjadi kepada kita, semua atas izin Allah, oleh karena itu kita harus yakin, bahwa Allah juga yang mampu memberikan solusi yang terbaik atas masalah kita.

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Tholaq [65]: 2)

KUTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا
أَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أمَّا بَعْدُ: فيا معاشر المسلمين رحمكم أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ, قال الله تعالى: اعوذبالله من الشيطان الر جيم يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُو١٨ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *